MAHFUDISME - Beberapa waktu lalu, ketika saya pulang-pergi ke
kampus untuk mengurus kesepian sendiri, tentu kampus adalah salah satu tempat
yang bisa dijadikan sebagai alibi, bahwa saya sedang baik-baik saja. Tetapi
dunia kampus adalah bumi mahasiswa dengan segala macam persoalannya—selalu ada
hal yang melemparkan ingatan saya pada perihal yang tidak pernah tuntas dalam
sebuah Negara. Di antara riuh
gembar-gembor soal syapres-syawapres dan riuh- gemuruh PBAK, dan urusan
persiapan KKN saya yang bikin kzzl,
misalnya. Tetapi bukan soal itu yang menjadi keresahan saya sebetulnya.
Di dalam sebuah pejam saya melihat jauh ke masa lalu,
bahwa Negara ini pernah kehilangan akal, di mana para pemikirnya telah
diasingkan. Barang kali yang merasa sebagai mahasiswa sudah katam sejarah ini
Negara. Imajinasi saya berkembang ketika saya mondar-mandir di lingkungan
kampus tempat saya mengejek diri sendiri. Terus terang saya senang melihat ada banyak
diskusi yang dilakukan, baik di taman, di ruang kelas atau di pinggir
jalan—yang sering kali mereka sebut dengan diping; diskusi pinggiran. Saya
tidak peduli dengan istilah itu, toh sama saja isinya adalah transaksi pikiran.
Di antara riuh suara dan wajah-wajah adik-adik mahasiswa baru yang menggemaskan
dan bikin saya gatel itu, saya tersenyum sambil meng-interpretasi-kan bahwa apa
yang saya lihat itu adalah wajah gairah semata.
Di antara wajah dan suara yang saya sebutkan di atas,
ada beberapa kalimat akademis jadul yang tidak akan basi hingga kini, yaitu
Eksistensialism, Fanatism dan Narcissm, dan identitas
dipertaruhkan di situ. Tentu kalimat yang saya tulis sebelum ini bukanlah
kesalahan. Tetapi yang menjadi soal adalah jika arogansi masih dirawat dengan
baik, itulah yang menjadi kesalahan.
Lalu para pendiri bangsa yang pernah diasingkan dulu,
kini menjadi imajinasi saya yang paling liar, sebab tidak hanya pada saat
Negara ini baru belajar merawat diri sendiri—ketika Negara ini sudah dapat
melangkahkan kaki secara perlahan, ada saja bagian dari tubuhnya yang
disingkirkan. Seperti pada masa orba. Berbincang secara terbuka saja harus
sangat hati-hati, bahkan akan di’dor’ bila dalam percakapan adalah soal Negara
dan memilih jalan yang berbeda dengan yang sudah ditetapkan. Saya berhemat
bahwa pada saat itu, kita tidak kehilangan akal, tetapi sengaja. Pada saat yang
sama saya melihat di keramaian kampus, saya seakan melihat wajah-wajah yang
pernah saya lihat di internet, seperti Marsinah, Widji Thukul, Munir. Saya kira
cukup tiga tokoh ini saja sebagai simbol kehilangan kita akan akal sehat
itu.
Hari-hari ini saya tidak tahu, apakah kita kehilangan
akal atau sengaja dihilangkan, tetapi kita seolah berada di antara keduanya.
Antara kehilangan dan sengaja menghilangkan atau, jangan-jangan malah anti.
Dalam diskusi misalnya, jika seseorang mengajukan argument dengan menggunakan
kata ‘pokoknya’ seolah-olah argument itu tidak boleh dibantah. Pada bagian ini
yang sering membuat saya curiga dan membuat saya kian ‘genit’.
Artinya, bila
ada kata ‘pokoknya’ dalam duel argument secara akademis, maka di sana ada upaya
menutup pikiran lain untuk masuk. Padahal konsep dalam diskusi-debat adalah
bertemunya beberapa argument berdasarkan akar pikiran yang sehat. Sebab, diskusi diselenggarakan bukan untuk
mengkonsumsi retorika belaka, tetapi untuk memproduksi keadilan. Ah,
kegenitan saya makin menjadi-jadi. Baiklah, akan saya ringkas agar ada rindu di
antara kesepian kita masing-masing.
Apakah kamu masih ingat puisi Widji Thukul yang
berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” yang kemudian dijadikan lagu oleh
putranya sendiri, Fajar Merah dengan judul ‘Apa Guna’. Jika kamu belum pernah
membaca puisinya atau mendengar lagunya, maka dengarkanlah.
Diskusi pinggiran, perkenalan organisasi dan rangkaian
kegiatan lain yang saya lihat di kampus beberapa waktu lalu, membuat saya
membayangkan seseorang datang bertanya dan menolak diberi jawaban: apakah Widji
Thukul telah kembali?
Untuk mengakhiri rasa genit saya ini, saya ingin berimajinasi
tentang apa yang diperintahkan konstitusi kepada pemerintah: cerdaskan
kehidupan bangsa—artinya, mari membaca!!
Penulis: Abdul Karim, penulis buku Jalan Pikiran Waktu (akan segera terbit).
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar