MAHFUDISME - Sebagai pengagum Basuki Tjahja Purnama aliyas Ahok
garis keras, sebenarnya saya sudah lama menunggu film bapak ini. Setelah
sebelumnya film “Anak Hoki” yang juga menceritakan tentang kehidupan Ahok waktu
masih muda, dengan produser Harry Tjahja Purnama (kakak Ahok) tak kunjung
muncul dan di prediksi bakalan tayang pertengahan agustus kemarin, akhirnya
teaser film “A Man Called Ahok” dirilis kepublik.
Daniel Manantha, makhluk yang juga sering tampil jadi
host di depan kaca telivisi, menjadi orang yang sangat beruntung karena bisa
menjadi pemeran utama dalam film ini. Okelah, saya tak akan bahas lebih jauh
soal film ini, sebenarnya, saya bukan mau review film ini. Tapi mungkin lebih
kepada refleksi atas dibuatnya 2 film Ahok terhadap politisi lain, yang meski
pun jumlah hartanya begitu membejibun hingga triliunan. Ngeh…
Kita tahu, bahwa membikin film itu harus ngeluarin
duit banyak, bahkan setelah film tayang, tidak sedikit orang yang bakalan nyinyirin film itu. Jangankan film
Indonesia, film luar negeri yang digarap tahunan aja, bagi orang Indonesia, ya
pasti ada celah buat diomelin.
Film A Man Called Ahok adalah cerita panjang
perjalanan Ahok dari Balitung hingga Jakarta. Saya ingat, ketika Ahok diprotes
ketika nyalon jadi wakil gubernur Jakarta tempo dulu. China dan kafir terdengar
dicorong pendemo, spanduk membentang dimana-mana menolaknya. Tapi mau gimana
lagi, Ahok ditakdirkan menjadi wakil gubernur kala itu. Lalu terjadilah hal-hal
yang tidak diinginkan dunia birokrasi Jakarta. Lebih-lebih ketika Jokowi nyalon
dan menang presiden, dan Ahok lah jadi orang nomor satu di Jakarta.
Terkenal dengan bahasa “Sikat” dan “habisi”, Ahok
muncul seperti busur, membabat habis papan panah wajah buram birokrasi Jakarta,
banyak yang dulunya kerja hanya duduk, tiba-tiba dibentak, dimaki-maki, bahkan
ada yang sampai dipecat. Revolusi birokrasi Jakarta begitu cepat berubah,
transparansi keuangan, bukti kerja, banjir, penggusuran dan hal-hal lain yang
dibawah kendali Ahok di update
sedemikian rupa.
Tidak hanya itu, kita semuanya tahu dan menyaksikan di
televisi, Ahok mancak-mancak ABPD Jakarta yang dinilai “anggaran
dihambur-hamburkan”. Banyak anggaran dipangkas. DPRD Jakarta geram, lebih-lebih
Haji Lulung politisi PPP, salah satu orang yang dulunya mendemonya waktu masih
nyalon. Haji Lulung menjadi terkenal sebab menjadi orang yang paling depan
“ngata-ngatain” Ahok.
Memang, Ahok tanpa tebang pilih jika sudah
marah-marah, baik itu politisi sonior, pejabat senior, orang kaya, orang
miskin, semuanya, bila tidak taat pada aturan, siap-siap kupingnya panas.
Banyak yang menilai kelakuan Ahok soal penggusuran kampung-kampung di Jakarta
adalah tindakan tanpa kemanusiaan, disana banyak orang miskin, tempat tinggal
mereka digusur rata. Contohnya Kalijodo yang merupakan pemukiman warga dan
tempat prostitusi Jakarta. Habis!
Kini, Ahok masih menjalani masa hukuman karena “korban
politik Jakarta”. Ahok menolak remisi tahanan, dan minta bebas murni. Meski
kita tahu, banyak sekali para pelaku koruptor mengajukan pra-peradilan dan
bersyukur bebas ditahan atas bantuan “remisi”.
Jadi tak mengejutkan, jika pada akhirnya Ahok di
filmkan, perjuangannya melawan arus, banyak dikagumi orang-orang yang sudah
sadar atas tingkah laku para pejabat yang itu-itu saja. A Man Called Ahok
adalah kita yang ingin perubahan besar terhadap Indonesia, kecurangan,
tipu-tipu, dan keburukan lainnya harus diubah. Tapi, rupanya masyarakat Jakarta
tidak mau akan perubahan itu. Ahok mendekam di penjara, Anies-Sandi kala itu
menang. Kini janji manis sang gubernur, mulai dari program rumah DP 0 Rupiah
belum juga terlihat, reklamasi di segel tapi sebagiannya masih jalan, Oke Oce
juga banyak yang tutup, kali item masih mengenakan hijab dan pewangi, dan
sebagainya adalah sekelumit masalah yang ‘sengaja’ di inginkan masyarakat
Jakarta. Padahal dulu, saya begitu kagumnya sama sang gubernur katika masih
jadi menteri pendidikan dan rektor. Tapi lambat laun kekaguman saya memudar dan
bahkan sekarang hilang.
Saya lebih mengagumi Ahok dalam dunia birokrasi, Ahok
jujur, Ahok tanpa kompromi, sekali pun Ahok kini di bui. Yang jelas, tokoh
politik kita berkembang biak luar biasa banyak, tapi kebanyakan dari mereka
sulit untuk di filmkan. Ya tahu sendiri kalian kenapa.
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar