MAHFUDISME -Tertangkapnya 41 Anggota DPRD Malang
kemarin, bukan hanya melukai warga Malang, tapi seluruh penduduk Jawa Timur. “Loh,
kan yang 41 orang itu bukan DPRD Provinsi Jatim” memang sih, cuma ya mau gimana
lagi wong Malang itu juga bagian dari Jatim. Tapi yowes, intinya kantor DPRD
Malang sekarang hanya sisa 4 orang.
Miris, ketika lihat berita DPRD Malang
yang tertangkap terus dada sambil senyum-senyum, bahkan ada yang masih bisa
ngomong menggelikan “Masyarakat Malang harus tabah” kata salah satu dari 41
orang itu. Spontan saya bilang “Sampeyan Pak yang tabah di rutan KPK”.
Ditengah gembar-gembornya spanduk uji coba
Pileg DPRD yang akan berlangsung tahun 2019, akan semakin mengecilkan peminat
masyarakat untuk memilih siapapun DPRD yang bakalan mencalon. Kemasan bahasa
seperti ‘berantas korupsi’ atau ‘stop pungli’ dan contoh-contoh bahasa yang
super itu akan semakin kehilangan kepercayaan masyarakat. Bisa seribu pusing
para calon mendatang dalam mengemas citranya.
Sebagai masyarakat sipil Jawa Timur yang akhir-akhir
ini hendak deglarasi Provinsi Madura, saya merasa kelakuan 41 orang ini memang
kelewat batas, manusia-manusia terhormat ini sama sekali tidak mencontohkan
sebagaimana manusia yang terhormat. Manusia terhormat menggadaikan harkat
martabatnya dengan 12,5 juta sampai 50 juta, apakah semurahan itu harga
dirinya? Apakah mereka tidak memikirkan anak-anak mereka yang sedang sekolah
dirumahnya, bagaimana perasaannya ketika ketahuan orang tuanya korupsi (terus
kawannya nama ‘bapakmu masuk tv pakai seragam oranye itu ya?”) Ini korupsi berjamaah
dan keluar dari gedung KPK malah nyengir-nyengir, seakan dia bilang “Beginian
DPR mah udah biasa”.
Yang tak kalah bikin ngehek dada adalah, kemana mahasiswa Malang? Apa reaksi mahasiswa
Malang? Bukannya disana banyak kampus-kampus beken? Jika sudah begini, saya
jadi ingat ketika kemarin diskusi sastra, dalam diskusi tersebut saya banyak
ngomong dengan dosen, dan yang tak kalah bikin ngehek adalah ketika salah satu audien nanya “bagaimana pandangan
anda terhadap mahasiswa sekarang” tanyanya. Lalu si dosen ini bilang “Mahasiswa
sekarang memang sengaja disibukkan dengan beberapa aturan, kegiatan yang padat
dan hal-hal yang sebenarnya tidak demikian. Tapi pada intinya, bisa digaris
bawahi, aturan-aturan itu untuk membungkam mahasiswa” akui dosen ini.
Apakah sama dengan mahasiswa yang ada di
Malang sana? Saya rasa ya begitulah, dimana-mana sudah biasa hal beginian,
lambat laun semangat menjadi mahasiswa pelan-pelan ditikam, didinabobokan. Lalu
para pemangku kebijakan bakalan bilang “Mahasiswa sekarang tidak seperti
mahasiswa dulu, yang menumbangkan Soeharto itu mahasiswa, sedangkan mahasiswa
sekarang ngapain?” kira-kira ucapan yang keluar dari mulut mereka demikian.
Saya cuma menggerutu “Ndasmu”..
Jika melihat kasus 41 anggota DPRD Malang
ini sudah biasa terjadi, saya sebagai mahasiswa justru ingin menanyakan reaksi
mahasiswa disana, atau sebegitu sulitnya mengumpulkan massa? Jika dengan tanpa
kesadaran hati nurani, barangkali memang sulit menemukan mahasiswa yang masih
idealis, masih sadar, masih peka terhadap lingkunga. Ketidakadaan reaksi ini
akan semakin menambah buram wajah Jawa Timur, khsusnya Malang.
Yang muda saja males, apalagi yang tua.
Tapi saya heran, saya yang lahir dan besar di Sumenep, kabupaten ujung timur
Madura, justru sama sekali tidak mengagumi Bupati Sumenep. Tapi justru saya
kagum sama sosok Bu Tri Rismaharini. Tokoh Idola yang terlihat kerjanya. Jika
dibandingkan dengan Bu Khafifah, saya lebih setuju Bu Tri Rismaharini jadi
Gubernur Jawa Timur, biar yang berubah tidak hanya Surabaya, tapi seluruh Jawa
Timur. Dan saya sedikit pasimis ketika sebantar lagi Bu Khafifah dilantik jadi
Gubernur, Jawa Timur akan biasa-biasa saja, perubahan hanya kampanye,
kemiskinan akan semakin menumpuk di Madura, birokrasi gitu-gitu aja, ketahanan
pangang jadi semboyan, kesejahteraan seperti gubernur-gubernur sebelumnya.
Sebagai rakyat Madura, jujur, saya tidak
terlalu bangga meski pun gubernur terpilih sekarang pernah pegang sana-sini
jabatan. Pokoknya, jika pengen Jawa Timur berubah ya Bu Tri Rismaharini, dan 41
orang diatas cukup jadi penyiram tanaman dipinggir jalan sambil nyapu-nyapu
dipinggi jalan dengan menggunakan kaos “Petugas kebersihan”
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar