MAHFUDISME - Saat
ini bermacam perang antar dunia telah terjadi, yakni dunia maya. Maya yang
sebagian orang punya dunianya sendiri, sedangkan sang punya nama mungkin sedang
asik dengan teman-temannya, keluarganya, sahabatnya ataupun pasangannya. Sedangkan
menurut istilah yang sebenarnya bahwa Dunia Maya (bahasa Inggris:cyberspace) adalah media elektronik
dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan komunikasi satu
arah maupun timbal-balik secara online
(terhubung langsung).
Dunia
maya ini merupakan integrasi dari berbagai peralatan teknologi komunikasi dan
jaringan komputer yang dapat menghubungkan peralatan komunikasi yang tersebar
di seluruh penjuru dunia secara interaktif. Kata “cyberspace” (dari istilah cybernetik
dan space) berasal dan pertama kali
diperkenalkan oleh penulis novel fiksi ilmiah, Wiliam Gibson dalam buku
ceritanya, “Burning Chrome”, 1982 dan
menjadi populer pada novel berikutnya (jangan-jangan Google
Crome?).
Pada
era sekarang ini, orang dengan mudahkan mendapatkan akses internet, dan para
anak-anak serta dewasa dimanjakan oleh hal itu, bahwa untuk sebuah permainan
pun pada saat sekarang ini lebih populer, ada istilah MOBA,
perusahan-perusahaan bersaing untuk menarik para peminat Gamers, dengan
berbagai macam varian dan keunggulan masing-masing.
Sebut
saja kedua yang tengah bersaing adalah pihak Moonton dengan gamenya Mobile
Legend dengan pihak Tancent Games dengan
gamenya Arena of Valor, kedua pihak game ini menyajikan permainan piranti
bergerak berjenis MOBA. Dengan masing-masing keunggulan dan kelebihannya
masing-masing juga, adapun untuk menarik para gamers, kedua belah pihak
bersaing dalam segala hal termasuk penyajian hero yang diciptakan.
Hero-hero
dikedua belah pihak mempunyai keunikan tersendiri, dari pihak Moonton menyajika
hero-hero yang terinspirasi dari Legenda ataupun mitos-mitos yang ada
didunia, hero dari Indonesia sendiri yang sudah muncul adalah Gatot Kaca, bagi
masyarakat Indonesia, Gatot Kaca
sudah tidak asing lagi, dia termuat dalam cerita Pandawa Kurama, anak dari
Bima, yang mempunyai kesaktian luar biasa. Kemudian kita ke pihak Tancent Games
yang baru-baru ini meliris hero dari Indonesia yakni Wiro Sableng.
Kita semua tahu, apalagi anak-anak 90an, sangat akrab dengan Wiro Sableng,
sebab pada masa itulah kejayaannya. Adapun Wiro Sableng atau pendekar 212
adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito ayah Vino G Sebastian.
Perang
dunia maya antar kedua perusahaan MOBA ini akan terus berangsung dan berlanjut
tanpa
batas waktu yang tak bisa ditentukan. Apalagi saat ini terdengar kabar bahwa
dari pihak Moonton kembali akan merilis hero dari Indonesia yang berasal dari
Mitologi masyarakat Jawa yakni Nyi Roro Kidul si penguasa Ratu pantai Selatan.
Marilah kita nikmati segala permainannya, sambil sesekali melupakan apa yang
menjadi beban pikiranmu.
Tak
jauh hebat dari kedua perusahaan ini, tengah berlangsung juga perang dunia
maya, yakni perpolitikan. Tapi ketika membahas tentang politik, tidak usah
terlalu serius, sebab mendengar kata politik itu saja sudah serius. Maka dari
itu marilah tertawa dalam politik.
Perayaan
pesta demokrasi tahun depan akan kembali dilaksanakan di Indonesia, dan sudah
ada penetapan Bakal Calon dengan pasangannya masing, biar disini tidak usah
disebutkan siapa. Perang antar kedua golongan pun merada panas dingin, baik
disegala platfrom media sosial. Dan
akan semakin memanas ketika waktunya semakin mendekat, hanya pelukan kembali
mungkin yang mampu meredamnya.
Sedari
tadi kita sudah berselancar dalam dunia maya internet, maka kita cobalah
berselancar di dunia maya dalam dunia imajinasi, yakni buku. Seperti yang
dikatakan Muhammad Hatta, “kalian boleh mempejaran tubuhku, tapi jangan
pisahkan aku dengan buku, sebab dengan buku aku bebas”. Dari sini kita tahu,
bahwa dunia maya kali ini adalah dunia imajinasi, baik yang kau buat sendiri
ataupun yang dibuat orang lain dengan kau masuk didalamnya.
Ada
banyak buku yang membuat kau seperti mempunyai duniamu sendiri, seperti hal di
pikirkan oleh Danarto dalam novelnya Asmaraloka, segala macam dunia kau
temukan, dan kau perlu berpikir untuk masuk kedalamnya, apakah menyenangkan
ataukah membosankan.
Dalam
kalimat pertama di novel itu kita sudah disuguhkan sebuah paragraf seperti ini
“Malaikat maut itu kelihatan tegar memanggul jenajah laki-laki yang terkulai di
pundaknya, barangkali sudah selama sembilan hari. Lentur. Bagai bola yang
diperebutkan oleh dua puluh orang pemain, ia mental dan melambung. Panah yang
meleset dari busur, tak terkejar bahkan oleh kilatan mata. Menggelinding dan
menyusur. Menerobos segala yang menghalang, semak, tembok, gunung, lautan, awan
dari segala warna angkasa. Mengepak-ngepak. Semburat menyinarkan segala cahaya
yang tak dapat dimengerti”.
Diawal paragraf saja kita sudah dimuat untuk berfikir lebih keras untuk menyelaminya, apalagi ketika masuk lebih dalam, ada ibu-ibu muda yang mengejar Malaikat Maut untuk meminta kembali jasad suami, kemudian pergi ke medan perang, dimana semua pasukan ikut ambil bagian didalamnya, dan bagaimanpun bahwa kemenangan dari satu pihak di kepalai oleh seorang ibu-ibu. Sebab disitulah letaknya sebuah penghasutan terbesar. Dalam novel Asmaralokanya Danarto, beliau menyampaikan bahwa sampai kapan pun perang selalu terjadi, dan bagaimana sebuah peperangan menjadi sebuah objek wisata yang ditawarkan.
Diawal paragraf saja kita sudah dimuat untuk berfikir lebih keras untuk menyelaminya, apalagi ketika masuk lebih dalam, ada ibu-ibu muda yang mengejar Malaikat Maut untuk meminta kembali jasad suami, kemudian pergi ke medan perang, dimana semua pasukan ikut ambil bagian didalamnya, dan bagaimanpun bahwa kemenangan dari satu pihak di kepalai oleh seorang ibu-ibu. Sebab disitulah letaknya sebuah penghasutan terbesar. Dalam novel Asmaralokanya Danarto, beliau menyampaikan bahwa sampai kapan pun perang selalu terjadi, dan bagaimana sebuah peperangan menjadi sebuah objek wisata yang ditawarkan.
Menelisik
karya sastra lainnya, yang diciptakan dari tangan dinginnya Hamsat Rangkuti,
sebuah cerita pendek tentang “Maukah kau menghapus bekas bibirnya dibibirku
dengan bibirmu”. Tapi tidak ada dijelaskan lebih rinci disini, sebab yang ku
inginkan kaliannya merasakan selamannya imajinasi yang lebih dalam tanpa pernah
terpengaruh pemikiran orang lain.
Dan
sampai kapan pun hidup ini imajinasi yang nyata dengan dunianya yang beragam
tanpa ada maya-maya nya.
Penulis: Syarif Hidayatullah,
saat ini menetap dikampung halamannya, masih menjadi tuan atas dirinya sendiri
dan sesekali menjadi Seniman.
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar