MAHFUDISME - Bagi kebanyakan orang, helm dianggap hanya
untuk pelengkap semata agar tidak ditilang Polisi. Posisi helm sering
tersingkirkan dengan kata-kata yang tak pantas “Biar helm jelek, yang penting
motor bagus”. Untuk itu, saya ingin mengajak kepada semua, agar sejenak
memikirkan helm. Saya sadar, kita adalah kumpulan orang yang tidak tahu
terimakasih pada helm saat razia sebra.
Dalam khazanah perjalanan motor merek Bravo
hingga motor Thunder, helm tidak hanya menunjukkan sebagai pelengkap semata, ia
hadir sebagai satu kesatuan dalam diri kita. Biar ke kota pakai Bravo, yang
penting helm kita berkelas. Naik motor Tornado ke ibu kota tak masalah, yang
penting helm cap NHK. Itu dulu, seolah-olah keterwakilan identitas sosial kita
diwakili helm. Semakin bermerek helm yang kita gunakan, maka kita akan semakin
percaya diri dan penuh wibawa.
Tapi fase berikutnya, zaman dimana
anak-anak milmilenial bertebaran kayak penyakit Rubella, helm kehilangan jati
diri, helm tidak bermarwah lagi, helm kehilangan identitasnya ditengah-tengah
masyarakat. Biar helm ditempelin banyak stiker dan kaca lepas, yang penting
motor metic termodifikasi.
Untuk itulah, saya sebagai pemerhati helm
di lampu merah, sering merenung sendirian sambil menatap helm orang satu-satu. Banyak
yang tidak benar menggunakan helm, dan asal-asalan berhelm. Saya perihatin dan
merenung hingga lumayan lama “Lajuiiii mas, hijau dah!!!!” kata orang teriak
dari belakang membuyarkan perenungan saya.
Sebagai mahasiswa kelas akhir, tentu saya
merasakan bagaimana helm begitu dekat dengan mahasiswa. Untuk itulah, saya
banyak tahu ciri-ciri helm mahasiswa, melalui ciri-ciri ini kita dapat
menafsirkan keuangan mereka, mulai dari mereka golongan kelas ekonomi atas,
bawah, hingga paling bawah tergambar dari helm yang mereka gunakan saban hari.
Memang, kita tidak akan sulit menafsirkan
itu, karena mahasiswa kita rata-rata memakai helm merek GM Evolution. Helm yang
konon katanya GM berarti Gue Mahasiswa (GM) Evolution. Itu artinya, helm ini
begitu dekat dengan mahasiswa.
Untuk itulah, mari kita telanjangi merek helm
ini satu-satu dan menafsirkan apakah mereka masuk golongan kelas atas, kelas
menengah atau kelas bawah dan yang paling bawah:
Merek INK
Inilah helm yang hanya digunakan mahasiswa
berduit, mahasiswa yang tongkrongannya di café dan malam mingguan di dugem.
Melihat spesifikasi harganya saja dari yang paling murah, harga helm ini mulai
dari Rp. 266.000 hingga Rp 1.176.000 adalah harga yang tak mungkin bisa ditebus
macam saya. Dari pada saya beli helm ini, mending buat beli mie Seedap cukup
beberapa bulan.
Bagi mahasiswa yang mengenakan merek ini,
tentu saja mereka adalah golongan ekonomi kelas atas. Hanya mahasiswa-mahasiswa
tertentu yang bisa mengenakan helm ini, dan saya jarang menemukan mahasiswa
pakai helm INK di lampu merah, toh meski pun ada, sangat jarang sekali.
Merek NHK
Bila kalian menemukan orang pakai
almamater kampus sambil mengenakan helm merek ini, berarti, secara kesat mata,
kita bisa menyimpulkan bahwa golongan ekonomi anak ini kelas menengah. Uang
bulanan yang sholeh datang tepat waktu dalam rekening.
Harga helm merek NHK paling murah mulai
dari Rp. 244.000 sampai paling mahal Rp. 500.000. Anak kelas menengah bisa
secara ruting menabung atau bisa juga memang ada jatah dari orang tuanya.
Pemakai merek NHK ini cukup terbilang “lumayan” ada ketika dilampu merah.
Merek Bogo
Helm merek Bogo bisa dibilang helmnya anak
milenial, kalian bisa lihat dijalanan, mulai dari anak-anak sekolahan sampai
emak-emak yang ketika dilihat dari belakang mirip kaum muda banyak menggunakan
helm merek Bogo. Dengan model mirip tempurung capung yang melonjong kedepan,
akan membuat perjalanan kalian tidak hanya gagah, tapi lebih kekinian.
Bicara harga helm ini, saya tak menemukan
harga pasti. Masalahnya adalah sulit membedakan mana Bogo asli dan mana Bogo
yang mereknya tempelan stiker. Memang iya sih, kebanyakan anak sekarang, wabil
khusus mahasiswa, masabodo dengan barang mewah, intinya helm itu merek Bogo.
Merek GM Evolution
Barangkali, helm ini adalah helm paling
paripurna di mata mahasiswa, khususnya mahasiswa tempat saya kuliah. Jika
dipandang secara seksama, seakan dikampus saya, kepala-kepala mahasiswanya
ditaburi helm merek GM. Kebanyakan yang mereka gunakan warga hitam, seolah
disetiap kepala mereka bilang “Seperti apapun idealisme mahasiswa, selama ia
tidak mengenakan helm GM Evolution, berarti idealisme mereka masih pincang!”
kira-kira begitu.
Seperti diawal tulisan ini, saya menyebut
merek helm ini. Helm yang ada disetiap kepala mahasiswa tempat saya ngampus.
Helm yang akan menuntun para penggunanya bukan hanya tidak ditilang, tapi jika
kalian percaya, dengan menggunakan GM ini hidup kalian tambah berkah, hidup
kalian penuh pahala, karena berarti kalian tidak maksa orang tua kalian beli
helm merek INK yang harganya bisa buat beli beras sekarung.
Apapun merek helm yang kalian gunakan, ada
satu hal yang perlu diingat, bahwa kepalamu bukan hanya dihiasi dengan berbagai
macam merek helm, tapi hiasi juga dengan berbagai macam buku. Biar kepalamu
sampah tidak semakin menumpuk. Ngerti ora?
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar