MENERAWANG KEMATIAN LPM SUKMA (PART 5)




MAHFUDISME LPM Sukma memiliki sejarahnya sendiri. Tergantung penulisnya mau dimulai dari mana. Ketika ke kanan penuh emosional, atau ke kiri melawan lupa. Kenapa sejarah Sukma yang pernah saya singgahi itu harus di tulis emosional?  Sukma merupakan organisasi kedua yang saya ikuti pada awal masuk kampus bernama UIN Antasari. Berkat komunitas pecinta puisi, saya kenal nama Sukma dari muhibbah (sekretaris waktu itu). Meski sebenarnya saya tahu Sukma di pengenalan organisasi disela peloncoaan saat ospek, Sukma merupakan sekelompok mahasiswa terkesan keren pada masanya. Masa saat mereka percaya diri bahwa di Sukma kalian akan banyak bicara.

Komunitas penyuka puisi yang bertahan 2 tahun itu bernama Pondok Huruf Sastra (PHS) dengan tagline art from heart in journey. Di sini saya sedikit mendengar nama Sukma. Bersama Syarif Hidayatullah, dan juga Moh Mahfud berkometmen untuk mengikuti organisasi ini seperti persaksian mereka di tulisan Menerawang Kematian LPM Sukma, bahwa awalnya kami tak memiliki tujuan hidup sama sekali.

Penikmat puisi yang mungkin menjerumuskan diri pada lembah realitas itu. Realitas bahwa Sukma serupa gudang yang menyimpan segala cerita gemerlap bintang. Realitas yang kami himpun betapa anak Sukma bicara banyak di kampus sejak berdirinya. Entah itu motivasi atau bukan, kami dapat bisikan demikian dahsyat sekiranya percaya.

Keberadaan kami bertiga di Sukma karena ingin mengenal apa itu organisasi. Ternyata organisasi seperti komunitas, bedanya kalau organisasi memiliki SK kepengurusan dari pihak kampus, sedang komunitas merupakan asas kesamaan menyukai sesuatu yang menyenangkan.

Apakah kami di Sukma menyenangkan? Hanya segelintir angkatan 13 dan Tuhan yang tau. Yang jelas, Sukma keluarga yang dinamis, bersaing tulisan di media untuk makan bareng tiap akhir pekan. Selain itu, di akhir pekan juga, kami keliling ke rumah keluarga angkatan kami dengan harapan akan dapat “bawaan banyak” yang bisa di makan besok di Sukma. Siapa bilang hal ini tidak menyenangkan. Saat-saat demikian itulah Sukma bicara pada kampus melalui terbitnya majalah, buletin, dan semacamnya.

“Terlalu memahami kadang membunuhmu” begitu kata Gregory G Young pada bukunya membaca kepribadian seseorang. Yang jelas kami memahami Sukma sebagai keluarga melebihi kehidupan kami yang sakit (baca: part 4). Supaya Sukma dapat bertahan lebih lama lagi, kami menerawang kematiannya sejak dalam pikiran kami, jauh sebelum kepengurusan sekarang yang sedang mengandung dan sebentar lagi melahirkan alumni baru.

Sukma pada Sukma.
Di atas sudah disinggung bahwa kami berjiwa puisi. Bermain rasa dengan segala rasa dalam Sukma dan saya yang over sensitif, harus memilah Sukma pada Sukma yang masih di ingat dentumannya hingga kini. Mulanya Sukma sebagai rumah yang setiap saat cerita tercipta bersama tulisan, diskusi dan penerbitan. Seiring waktu yang ceria terbentuklah Sukma pada individu yang begitu sarkas. Anggota Sukma yang tak bersukma itu membuat saya harus meninggalkan rumah Sukma. Semua kesukmaan saya lemparkan jauh ke jurang kenangan, namun semakin dibuang kian mensukma. Dunia tulis menulis terus bergelora.

Sukma yang saya fahami bukan sebagai ‘suara kritis mahasiswa'  yang mesti mengkritisi seorang karena fisiknya. Tapi Sukma sebagai jiwa yang besar menilai sosial yang dihadapi kampus, mahasiswa, Kalimantan bahkan bangsa. Sukma yang mendiskusikan wacana kampus secara komprehensif. Okelah, mendiskusikan kehidupan yang kering sebagai hiburan, tapi harus menjaga Sukma itu sendiri.

Sejarah Sukma pada tanjakan penuh belokan emosional dan melawan lupa ini, saya pusing memilih kaca mata karena begitu kaburnya Sukma yang sekarang.

Penulis: Ali senior, Angkatan LPM Sukma '13
Editor: MAHFUDISME

Posting Komentar

0 Komentar