MAHFUDISME - LPM Sukma memiliki sejarahnya sendiri. Tergantung
penulisnya mau dimulai dari mana. Ketika ke kanan penuh emosional, atau ke kiri
melawan lupa. Kenapa sejarah Sukma yang pernah saya singgahi itu harus di tulis
emosional? Sukma merupakan organisasi
kedua yang saya ikuti pada awal masuk kampus bernama UIN Antasari. Berkat
komunitas pecinta puisi, saya kenal nama Sukma dari muhibbah (sekretaris waktu
itu). Meski sebenarnya saya tahu Sukma di pengenalan organisasi disela
peloncoaan saat ospek, Sukma merupakan sekelompok mahasiswa terkesan keren pada
masanya. Masa saat mereka percaya diri bahwa di Sukma kalian akan banyak
bicara.
Komunitas
penyuka puisi yang bertahan 2 tahun itu bernama Pondok Huruf Sastra (PHS)
dengan tagline
art from heart in journey. Di sini saya
sedikit mendengar nama Sukma.
Bersama Syarif Hidayatullah, dan juga Moh Mahfud berkometmen
untuk mengikuti organisasi ini seperti persaksian mereka di tulisan Menerawang
Kematian LPM Sukma, bahwa awalnya kami
tak memiliki tujuan hidup sama sekali.
Penikmat
puisi yang mungkin menjerumuskan diri pada lembah realitas itu. Realitas bahwa Sukma
serupa gudang yang menyimpan segala cerita gemerlap bintang. Realitas yang kami
himpun betapa anak Sukma bicara banyak di kampus sejak berdirinya. Entah itu
motivasi atau bukan, kami dapat bisikan demikian dahsyat sekiranya percaya.
Keberadaan
kami bertiga di Sukma karena ingin mengenal apa itu organisasi. Ternyata
organisasi seperti komunitas, bedanya kalau organisasi memiliki SK kepengurusan
dari pihak kampus, sedang komunitas merupakan asas kesamaan menyukai sesuatu yang
menyenangkan.
Apakah
kami di Sukma menyenangkan? Hanya segelintir angkatan 13 dan Tuhan yang tau.
Yang jelas, Sukma keluarga yang dinamis, bersaing tulisan di media untuk makan bareng
tiap akhir pekan. Selain itu, di akhir pekan juga, kami keliling ke rumah
keluarga angkatan kami dengan harapan akan dapat “bawaan banyak” yang bisa di
makan besok di Sukma. Siapa bilang hal ini tidak menyenangkan. Saat-saat
demikian itulah Sukma bicara pada kampus melalui terbitnya majalah, buletin,
dan semacamnya.
“Terlalu
memahami kadang membunuhmu” begitu kata Gregory
G Young pada bukunya membaca kepribadian seseorang. Yang jelas kami memahami
Sukma sebagai keluarga melebihi
kehidupan kami yang sakit (baca: part 4). Supaya Sukma dapat bertahan lebih
lama lagi, kami menerawang kematiannya sejak dalam pikiran kami,
jauh sebelum kepengurusan sekarang yang sedang mengandung dan sebentar lagi
melahirkan alumni baru.
Sukma
pada Sukma.
Di
atas sudah disinggung bahwa kami berjiwa puisi. Bermain rasa dengan segala rasa
dalam Sukma dan saya yang over sensitif, harus memilah Sukma pada
Sukma yang masih di ingat dentumannya hingga kini. Mulanya Sukma sebagai rumah yang
setiap saat cerita tercipta bersama tulisan, diskusi dan penerbitan. Seiring waktu
yang ceria terbentuklah Sukma pada individu yang begitu sarkas. Anggota Sukma yang
tak bersukma itu membuat saya harus meninggalkan rumah Sukma. Semua kesukmaan saya
lemparkan jauh ke jurang kenangan, namun semakin dibuang kian mensukma. Dunia
tulis menulis terus bergelora.
Sukma
yang saya fahami bukan sebagai ‘suara kritis mahasiswa' yang mesti mengkritisi seorang karena
fisiknya. Tapi Sukma sebagai jiwa yang besar menilai sosial yang dihadapi
kampus, mahasiswa, Kalimantan bahkan bangsa. Sukma yang mendiskusikan wacana
kampus secara komprehensif. Okelah, mendiskusikan kehidupan yang kering sebagai
hiburan, tapi harus menjaga Sukma itu sendiri.
Sejarah
Sukma pada tanjakan penuh belokan emosional dan melawan lupa ini, saya pusing
memilih kaca mata karena begitu kaburnya Sukma yang sekarang.
Penulis: Ali
senior, Angkatan LPM Sukma '13
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar