MENERAWANG KEMATIAN LPM SUKMA (PART 4)




MAHFUDISME Setelah membaca tentang tulisan Menerawang Kematian LPM Sukma” dari part 1-3 dari mantan Pimum Sukma dua periode, saya kembali seperti membuka memori masa kuliah, masa dimana tidak ada pikiran yang macam-macam. Sebab pikiran cuman satu, bagaimana kita makan hari itu.

Awal waktu saya kuliah, selama satu tahun melanglang buana tanpa organisasi di kampus, sebab bagi saya organisasi-organisasi hanya semacam alat untuk mencapai kepentingan individu. Dan entah apa yang membuat saya mendaftarkan diri dan menjadi bagian dari Sukma, organisasi yang bergelut dalam dunia jurnalistik, dunia kepenulisan. Yang jelas saya tak punya alasan, dan karena tak punya alasan itulah saya akhirnya bertahan dengan beberapa orang kawan yang memang ingin bertahan.

Kami masuk dengan segala bentuk kemudahan, tak ikut PENA Sukma tak masalah, PJTD hadir sekadarnya tak masalah, maka akhirnya kami bertahan memang karena ingin. Tanpa paksaaan, tanpa intimidasi, tanpa apapun. Sebab pada saat waktu itu tak ada yang dapat kami banggakan ketika kami mengatakan kami anak Sukma. Sukma seperti sesuatu yang ada tapi tak nampak di mata mahasiswa kampus, keberadaan kami pada waktu itu ada tetapi seperti tidak ada.

Pada saat sekarang ini, jika masuk Sukma hanya ingin di anggap keren, di anggap orang yang mempunyai wawasan yang luas, maka, itu sudah menjadi kesalahan terbesar dalam proses berpikir. Angatan kami (2013) adalah angatan yang tak memiliki arah dan tujuan untuk apa kami di Sukma. Kami adalah angkatan yang tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi anggota muda, bagaimana rasanya menjadi anggota penuh. Angkatan kami tidak pernah dimotivasi, tetapi kamilah yang memotivasi diri kami sendiri. Angkatan kami tidak pernah punya konsep bagaimana pembuatan majalah, perekrutan anggota baru. Tetapi segalanya hanya kami membuatnya, tanpa pernah ada tempat untuk bertanya ataupun memberi masukan serta solusi bagi kami waktu itu.

Saat itu kami semua mungkin merasakan bagaimana yang dimaksud oleh Chairil Anwar

Ini kali tak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Tetang sebuah kesedihan, tentang sebuah kegelisahan, dan kamilah yang menyemangati diri kami sendiri, segala sesuatu itu harus berubah dalam diri kami. Ketika itu kami baru masuk di Sukma, tanpa pernah tau bagaimana Mubes,  langsung di adakan Mubes, ditambah angkatan kamilah yang menjadi Pimpinan Umum serta hal-hal yang lainnya. Kita serasa dipaksa terus berjalan untuk mencari terang.

Seperti yang sudah diungkapkan pada part 1-3 tentang pahitnya kami. Manisnya kamilah yang mengatur diri kami sendiri, kamilah yang memecat diri kami sendiri. Dan terbukti satu angkatan memecat teman seangkatan. Yang jelas begitulah kami, sangat kompleks dan kadang absurd.

Pada saat ini mungkin kami bukan apa-apa lagi di Sukma, melihat laju suksesnya Sukma, angkatan kami bukan apa-apanya dengan angkatan sesudah kami. Segalanya terorganisir, PENA yang terprogram, PJTD yang penuh konsep, rapat redaksi yang terjadi setiap pekan serta penerbitan-penerbitan lainnya. Tetapi sejauh apapun kami pergi, sekeras apapun kami mengelak, setabah apapun kami diam, tetapi tetap selalu memikirkan rumah kami yang pernah kami singgahi, tempat segala perasaan kami pernah tertuang.

Antara sayang dengan benci sangat sama, tetapi jauh sekali bedanya. Orang yang benci ia akan mengkritik segalanya, tetapi tidak pernah terlibat, tidak pernah menjadi bagian darinya. Sedangkan orang sayang, ia akan merasa sakit jika sesuatu yang disayanginya terasa janggal. Sebab ia pernah menjadi bagian dari yang disayanginya.

Dan bagi kami, Sukma bukan sebuah organisasi internal kampus tanpa orang, tanpa tahu bagaimana caranya berorganisasi, tetapi Sukma adalah keluarga. Bagaimana keluhan perut kami setiap hari, bagaimana susah mencari duit di kota yang besar tanpa pernah merengek minta kiriman orang tua, Sukma adalah kemandirian dari orang-orang didalamnya, Sukma adalah tempat untuk berbagi segala susah maupun senang. Tak jarang siapa yang punya duit lebih dialah yang menjadi seperti penyelamat perut hari itu. Sukma juga tempat kami berlomba. Berlomba dalam segala hal, Sukma menjadi tempat kami mengejek diri kami sendiri.

Kami pernah mencari duit dari media ke media, dan tentu pernah kami bersaing sesama Sukma. Siapa yang  duluan di terbitkan, maka akan ada santapan enak untuk hari kami. Di sukma lah kami mengadakan parti besar setiap salah satu karya dari kami di muat di media dan mendapatkan honor yang lumayan.

Kami hidup dari satu ke satu, tetapi tempat tujuan kami  adalah Sukma. Kami pernah mencari hiburan sastra, tetap yang kami bawa adalah Sukma. Kami pergi mencari ketenangan dengan alam, yang kami bawa adalah Sukma. Sukma telah menjadi diri kami.

Roda kepengurusan akan terus berjalan tanpa pernah bisa didiamkan, dan yang kami inginkan adalah kalian yang sekarang harus lebih dari kami yang dahulu. Salam hormat dari angkatan yang pernah ada di Sukma.

Penulis: Syarif Hidayatullah, S.E. pernah menjadi bagian dari LPM Sukma, saat ini masih menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Editor: MAHFUDISME

Posting Komentar

0 Komentar