MAHFUDISME - Setelah
membaca tentang tulisan “Menerawang Kematian LPM Sukma” dari part 1-3 dari mantan Pimum Sukma dua periode, saya
kembali seperti membuka memori masa kuliah, masa dimana tidak ada pikiran yang
macam-macam. Sebab pikiran cuman satu, bagaimana kita makan hari itu.
Awal waktu saya kuliah, selama satu tahun melanglang
buana tanpa organisasi di kampus, sebab bagi saya organisasi-organisasi hanya
semacam alat untuk mencapai kepentingan individu. Dan entah apa yang membuat
saya mendaftarkan diri dan menjadi bagian dari Sukma, organisasi yang
bergelut dalam
dunia jurnalistik, dunia kepenulisan. Yang jelas saya tak punya alasan, dan
karena tak punya alasan itulah saya akhirnya bertahan dengan beberapa orang
kawan yang memang ingin bertahan.
Kami
masuk dengan segala bentuk kemudahan, tak ikut PENA Sukma tak
masalah, PJTD hadir sekadarnya tak masalah, maka akhirnya kami bertahan memang
karena ingin. Tanpa paksaaan, tanpa intimidasi, tanpa apapun. Sebab pada saat
waktu itu tak ada yang dapat kami banggakan ketika kami mengatakan kami anak Sukma.
Sukma seperti sesuatu yang ada tapi tak nampak di mata mahasiswa kampus,
keberadaan kami pada waktu itu ada tetapi seperti tidak ada.
Pada
saat sekarang ini, jika masuk Sukma
hanya ingin di anggap keren, di
anggap orang yang mempunyai wawasan yang luas, maka,
itu sudah menjadi kesalahan terbesar dalam proses berpikir. Angatan kami (2013)
adalah angatan yang tak memiliki
arah dan tujuan untuk apa kami di Sukma. Kami adalah angkatan
yang tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi anggota muda, bagaimana
rasanya menjadi anggota penuh. Angkatan kami tidak pernah dimotivasi, tetapi
kamilah yang memotivasi diri kami sendiri. Angkatan kami tidak pernah punya
konsep bagaimana pembuatan majalah, perekrutan anggota baru. Tetapi segalanya
hanya kami membuatnya, tanpa pernah ada tempat untuk bertanya ataupun
memberi masukan serta solusi bagi kami waktu itu.
Saat
itu kami semua mungkin merasakan bagaimana yang dimaksud oleh Chairil Anwar
Ini kali tak ada yang
mencari cinta
Di antara gudang,
rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali.
Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam
mempercaya mau berpaut
Tetang
sebuah kesedihan, tentang sebuah kegelisahan, dan kamilah yang menyemangati
diri kami sendiri, segala sesuatu itu harus berubah dalam
diri kami.
Ketika itu kami baru masuk di Sukma,
tanpa pernah tau bagaimana Mubes,
langsung di adakan Mubes, ditambah angkatan kamilah yang menjadi
Pimpinan Umum serta hal-hal yang lainnya. Kita serasa dipaksa terus berjalan
untuk mencari terang.
Seperti
yang sudah diungkapkan pada part 1-3
tentang pahitnya kami. Manisnya kamilah yang mengatur diri kami sendiri,
kamilah yang memecat diri kami sendiri. Dan terbukti satu angkatan memecat
teman seangkatan. Yang jelas begitulah kami,
sangat kompleks dan kadang absurd.
Pada
saat ini mungkin kami bukan apa-apa lagi di Sukma, melihat laju
suksesnya Sukma,
angkatan kami bukan apa-apanya dengan angkatan sesudah kami. Segalanya
terorganisir, PENA yang terprogram, PJTD yang penuh konsep, rapat redaksi yang
terjadi setiap pekan serta penerbitan-penerbitan lainnya. Tetapi sejauh apapun
kami pergi, sekeras apapun kami mengelak, setabah apapun kami diam, tetapi
tetap selalu
memikirkan rumah kami yang pernah kami singgahi, tempat segala perasaan kami
pernah tertuang.
Antara
sayang dengan benci sangat sama, tetapi jauh sekali bedanya. Orang yang benci
ia akan mengkritik segalanya, tetapi tidak pernah terlibat, tidak pernah
menjadi bagian darinya. Sedangkan orang sayang, ia akan merasa sakit jika
sesuatu yang disayanginya terasa janggal. Sebab ia pernah menjadi bagian dari
yang disayanginya.
Dan
bagi kami,
Sukma
bukan sebuah organisasi internal kampus tanpa orang,
tanpa tahu bagaimana caranya berorganisasi, tetapi Sukma
adalah keluarga. Bagaimana keluhan perut kami setiap hari, bagaimana susah
mencari duit di kota yang besar tanpa pernah merengek minta kiriman orang tua,
Sukma
adalah kemandirian dari orang-orang didalamnya, Sukma adalah tempat
untuk berbagi segala susah maupun senang. Tak jarang siapa yang punya duit
lebih dialah yang menjadi seperti penyelamat perut hari itu. Sukma juga tempat
kami berlomba. Berlomba dalam segala hal, Sukma menjadi tempat
kami mengejek diri kami sendiri.
Kami
pernah mencari duit dari media ke media, dan tentu pernah kami bersaing
sesama Sukma. Siapa yang
duluan di terbitkan, maka akan ada santapan enak untuk hari kami.
Di sukma lah kami mengadakan parti besar setiap salah satu karya dari kami di muat di media
dan mendapatkan honor yang lumayan.
Kami
hidup dari satu ke satu, tetapi tempat tujuan kami adalah Sukma. Kami pernah
mencari hiburan sastra, tetap yang kami bawa adalah Sukma. Kami pergi
mencari ketenangan dengan alam, yang kami bawa adalah Sukma. Sukma telah
menjadi diri kami.
Roda
kepengurusan akan terus berjalan tanpa pernah bisa didiamkan, dan yang kami
inginkan adalah kalian yang sekarang harus lebih dari kami yang dahulu. Salam
hormat dari angkatan yang pernah ada di Sukma.
Penulis: Syarif Hidayatullah,
S.E. pernah menjadi bagian dari LPM Sukma, saat ini masih menjadi tuan atas
dirinya sendiri.
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar