MAHFUDISME - Kurang lebih empat atau lima tahun saya di Sukma dan
puluhan orang saya kenal. Awal masuk, saya dibawa dua orang senioran nongkrong
di amperan toko, ngobrol apa saja hingga subuh suntuk. Dari tongkrongan yang
hanya semalaman itu, lambat laun saya mulai menyukai tongkrongan ala dua
senioran tersebut. Membicarakan banyak hal, termasuk ketidakaktifan anggota.
Rentang waktu 2013-2014, ada kisah menarik di Sukma.
Waktu itu, Sukma bukan seperti sekarang, Sukma hanyalah semacam sisa
peperangan, generasi saya bernasib sial sekaligus beruntung karena sama sekali
tidak memeliki agenda penting. Kami hanya tahu, bahwa besok kalau mau makan,
datanglah Sukma, tiduran sepanjang hari dan berharap ada yang bawa gorengan
buat mengganjal perut. Sumbangan seribuan menjadi satu-satunya jalan biar bisa
makan. Dan hampir tiap hari kami selalu membawa perut kosong ke Sukma.
Akibat dari tidak adanya jadwal yang seperti sekarang,
kami seperti orang yang cuma hidup leha-leha, makan, nonton tv, lalu diakhir
pekan masak bareng. Maklum saja, generasi saya orangnya sedikit, jadi labih
gampang mau ngapain. Untuk menutupi kebosanan yang hanya di Sukma, kami selalu
menyempatkan diri buat liburan, berbagai macam liburan kami pakai, mulai dari
mancing, naik gunung, main kerumah kawan dan liburan yang sebanarnya bukan
liburan lainnya.
Dari sepenggal kisah diatas ini, lalu saya dapat
merefleksikan ke era sekarang. Era dimana digital selalu menjadi solusi.
Sekarang tak perlu susah payah nongkrong diamperan toko maupun diwarung-warung.
Cuma buka group WhatsApp tongkrongan itu terwakili. Dengan menggunakan group
WhatsApp, mereka bisa diskusi apa saja sambil selonjoran, tiduran, di WC, dan
dimana saja menjadi lebih mudah. Akibat dari apa-apa harus memiliki group inilah
membuat nongkrong sambil minum kopi perlahan lenyap.
Kekompakan tidak timbul karena kita se-group, pintar
debat dalam group juga bukan jaminan kalian bisa ngomong ketika di depan banyak
orang. Sementara, lagi-lagi orang Sukma menggunakan metode itu. Maka wajar
saja, bila ada yang mengajak diskusi, kepalanya dengan secepat kilat langsung
merespon dengan kata “maaf tidak bisa karena ada kesibukan lain”. Maksud dari
kata “kesibukan lain” adalah secara kesat mata adalah enteng dan bahkan bisa
menganggap persoalan Sukma hanyalah urusan receh, diskusi receh, diskusi yang
penuh dengan pembahasan sampah.
Secara perlahan, orang-orang macam ini tergeser dengan
sendirinya, ia tidak betah lalu kehilangan akal sehatnya dan perlahan keluar
dari group. Jika saya masih di Sukma, tentu saja saya dengan senang hati
menendang masyarakat macam ini keluar Sukma. Akibat penghuni macam ini pula,
semangat dalam menyatukan persepsi Sukma menjadi sulit. Maka wajar saja, jika
tulisan, diskusi, majalah, buletin dan produk-produk Sukma kian hari tambah
kering lalu musnah.
Bukan hanya itu, dengan Sukma memelihara orang macam
ini, akibatnya berdampak jangka panjang dan turun temurun tanpa kemajuan.
Sekarang Sukma “mengandung” lagi, dan sebentar lagi melahirkan. Kondisi Sukma
yang belum stabil dan kekurangan vitamin macam sekarang, bisa mengakitbatkan
apa yang dilahirkan gampang diserang penyakit, daya tahan tubuh lembek,
bergerak sedikit langsung flu, dan semacamnya.
Tentu saja itu bukan harapan Sukma. Idealnya,
anak-anak Sukma buka hanya membaca bejibun judul buku, bukan juga wajib nulis
saban hari, yang disebut anak Sukma adalah mereka yang mencintai Sukma,
menyayangi Sukma, membangun Sukma dan perlahan-lahan memperbaiki suatu hal yang
mengganjal di Sukma. Itu baru ideal.
Pengurus inti Sukma menjadi contoh mutlak yang bakalan
diikuti para anggotanya. Sekali pun saya tahu, banyak orang yang dulunya begitu
bersemangat, kini tertimbun pilihannya untuk tidak lagi di barisan Sukma.
Pengurus inti banyak yang linglung, mabuk dan harus keluar sejauh mungkin dari
Sukma. Jadi wajar, sekarang banyak yang mencontoh model pengurus inti macam
ini.
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar