MAHFUDISME - “Jangan silau pada keberhasilan, tapi banggalah pada proses” kata
guru saya waktu masih mondok. Beliau mengucapkan kalimat itu sambil
mencorat-coret naskah yang saya tulis seminggu lamanya. Tapi saya tak berani
protes, saya biarkan saja guru itu mencoretnya sepuas hati, “Ini, simpan disana”
kata guru sambil tangannya menunjuk ke tempat sampah. Saya paham maksud “simpan”
adalah kata lain beliau menyuruh saya membuang naskah saya ketempat sampah,
tempat dimana ia paling cocok berdiam dan dibuang.
Berkaca dari pengalaman diatas, tentu saja waktu saya masih di
Sukma tidak bisa menerapkan metode itu, apalagi dengan dunianya yang sekarang.
Banyak dari mereka bukan menyodorkan tulisan hasil dari karya mereka, yang di
sodorkan adalah persoalan ketidakbetahan untuk bertahan di Sukma, persoalan
yang bertubi-tubi datang adalah mereka kehilangan arah di Sukma. Lalu bagaimana
jika persoalan-persoalan yang mereka buat dibuang saja ke tong sampah? Tentu
saja memecat anggota Sukma, bagi saya, adalah perkara mudah. Dan saya sudah
mempraktekan itu, banyaklah yang bertumbangan.
Melihat kondisi terkini Sukma, saya seperti menonton sirkus anjing
laut. Ia piawai untuk menghibur penonton dan bahkan akibat ulahnya, penonton
bisa tertawa terpingkal-pingkal. Anjing laut memang punya kepekaan yang beda
dengan hewan lain. Intrukturnya melatihnya dengan begitu telaten, jika bergerak
kekanan artinya begini, jika kekiri artinya begini. Maklum saja, anjing laut
tak punya pikiran, ia hanya memelihara otak sebagai alat pelengkap dalam
tempurung kepalanya. Ia membiarkan otak itu diam sampai ia menemukan ajal
secara sukarela.
Begitu halnya dengan Sukma, dalam perkembangannya, Sukma seperti
tempat pertunjukan yang tak kalah menghibur dari sirkus anjing laut. Di dalamnya,
beraneka ragam hewan-hewan (baca: hayawanunnatiq)
ini dilatih, hingga pada akhirnya ia bisa tampil menjadi “Perliharaan Sukma”
yang bakal menghibur banyak penonton. Pengakuan menjadi perliharaan Sukma
melekat ketika ia tampil dimana saja, kapan saja, dan dimana saja. Menjadi
peliharaan Sukma berarti ia siap dalam segala hal, misalnya ketika disuruh jamping,
salto, dan akrobat-akrobat lainnya.
Tentu saja itu bukan perkara mudah, ketika ada seorang dosen
bilang “Orang Sukma pastilah bisa menulis”, peliharaan ini harus bergegas
mencari alat-alat tulis lalu menulisnya meski sebaris. Melekatnya identitas “penulis”
inilah yang membuat orang-orang yang berada diluar Sukma setiap hari selalu
beranggapan bahwa “Orang Sukma wajib bisa menulis”. Jelas saja ini beban yang
keparat kejam. Saya, dan barangkali orang-orang Sukma tahu, bahwa tidak semua
orang-orang didalamnya bisa menulis, tidak semua orang pandai bicara, tidak
semua orang fasih merakai kalimat, tidak semua orang nyaman dalam dunia baca.
Tapi mau bagaimana lagi, stigma seperti perkataan dosen dan orang diluar Sukma
semakin menjadi-jadi.
Di era sekarang, hampir seluruh umat manusia bisa menulis, ya
minimal nulis status. Begitu pun Sukma, Alhamdulillah, berkat kegigihan dan
ketekunannya, banyak dan hampir semua dari mereka pandai menulis, pandai merakai
kalimat inspiratif, pandai membikin foto jurnalistik, pandai menjadi pembicara,
pandai membaca buku segala, dan kepandaian-kepandaian yang tak mungkin bisa
ditiru orang luar Sukma.
Tapi, dari kepandaian-kepandaian mereka itu, banyak dari Sukma
perlahan-perlahan meninggalkan kandang, dengan seabrek kepandaian, lalu mereka
hijrah ke organisasi lain yang agaknya perlu penyelamatan, orang Sukma akan
tampil disana dengan bau-bau Sukma. Di organisasi luar Sukma, ia akan dijadikan
panutan. Maklum, ciri-ciri hewan macam ini sudah pandai, dan sudah menemukan
jalan takdir paling beruntung karena sudah tidak di Sukma lagi.
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar