MENERAWANG KEMATIAN LPM SUKMA (PART 2)


MAHFUDISME “Jangan silau pada keberhasilan, tapi banggalah pada proses” kata guru saya waktu masih mondok. Beliau mengucapkan kalimat itu sambil mencorat-coret naskah yang saya tulis seminggu lamanya. Tapi saya tak berani protes, saya biarkan saja guru itu mencoretnya sepuas hati, “Ini, simpan disana” kata guru sambil tangannya menunjuk ke tempat sampah. Saya paham maksud “simpan” adalah kata lain beliau menyuruh saya membuang naskah saya ketempat sampah, tempat dimana ia paling cocok berdiam dan dibuang.

Berkaca dari pengalaman diatas, tentu saja waktu saya masih di Sukma tidak bisa menerapkan metode itu, apalagi dengan dunianya yang sekarang. Banyak dari mereka bukan menyodorkan tulisan hasil dari karya mereka, yang di sodorkan adalah persoalan ketidakbetahan untuk bertahan di Sukma, persoalan yang bertubi-tubi datang adalah mereka kehilangan arah di Sukma. Lalu bagaimana jika persoalan-persoalan yang mereka buat dibuang saja ke tong sampah? Tentu saja memecat anggota Sukma, bagi saya, adalah perkara mudah. Dan saya sudah mempraktekan itu, banyaklah yang bertumbangan.

Melihat kondisi terkini Sukma, saya seperti menonton sirkus anjing laut. Ia piawai untuk menghibur penonton dan bahkan akibat ulahnya, penonton bisa tertawa terpingkal-pingkal. Anjing laut memang punya kepekaan yang beda dengan hewan lain. Intrukturnya melatihnya dengan begitu telaten, jika bergerak kekanan artinya begini, jika kekiri artinya begini. Maklum saja, anjing laut tak punya pikiran, ia hanya memelihara otak sebagai alat pelengkap dalam tempurung kepalanya. Ia membiarkan otak itu diam sampai ia menemukan ajal secara sukarela.

Begitu halnya dengan Sukma, dalam perkembangannya, Sukma seperti tempat pertunjukan yang tak kalah menghibur dari sirkus anjing laut. Di dalamnya, beraneka ragam hewan-hewan (baca: hayawanunnatiq) ini dilatih, hingga pada akhirnya ia bisa tampil menjadi “Perliharaan Sukma” yang bakal menghibur banyak penonton. Pengakuan menjadi perliharaan Sukma melekat ketika ia tampil dimana saja, kapan saja, dan dimana saja. Menjadi peliharaan Sukma berarti ia siap dalam segala hal, misalnya ketika disuruh jamping, salto, dan akrobat-akrobat lainnya.

Tentu saja itu bukan perkara mudah, ketika ada seorang dosen bilang “Orang Sukma pastilah bisa menulis”, peliharaan ini harus bergegas mencari alat-alat tulis lalu menulisnya meski sebaris. Melekatnya identitas “penulis” inilah yang membuat orang-orang yang berada diluar Sukma setiap hari selalu beranggapan bahwa “Orang Sukma wajib bisa menulis”. Jelas saja ini beban yang keparat kejam. Saya, dan barangkali orang-orang Sukma tahu, bahwa tidak semua orang-orang didalamnya bisa menulis, tidak semua orang pandai bicara, tidak semua orang fasih merakai kalimat, tidak semua orang nyaman dalam dunia baca. Tapi mau bagaimana lagi, stigma seperti perkataan dosen dan orang diluar Sukma semakin menjadi-jadi.

Di era sekarang, hampir seluruh umat manusia bisa menulis, ya minimal nulis status. Begitu pun Sukma, Alhamdulillah, berkat kegigihan dan ketekunannya, banyak dan hampir semua dari mereka pandai menulis, pandai merakai kalimat inspiratif, pandai membikin foto jurnalistik, pandai menjadi pembicara, pandai membaca buku segala, dan kepandaian-kepandaian yang tak mungkin bisa ditiru orang luar Sukma.

Tapi, dari kepandaian-kepandaian mereka itu, banyak dari Sukma perlahan-perlahan meninggalkan kandang, dengan seabrek kepandaian, lalu mereka hijrah ke organisasi lain yang agaknya perlu penyelamatan, orang Sukma akan tampil disana dengan bau-bau Sukma. Di organisasi luar Sukma, ia akan dijadikan panutan. Maklum, ciri-ciri hewan macam ini sudah pandai, dan sudah menemukan jalan takdir paling beruntung karena sudah tidak di Sukma lagi.

Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

Posting Komentar

0 Komentar