MENERAWANG KEMATIAN LPM SUKMA (PART 1)



MAHFUDISME Jika bicara LPM Sukma, saya ingat ketika dulu, waktu dimana saya mulai belajar berkumpul, diskusi, masak bareng, dan kegiatan-kegiatan yang waktu itu sangat melelahkan. Setumpuk persoalan silih berganti datang. Kadang sesama anggota menaruh jengkel, sesama pengurus organisasi menyimpan dendam, dan lebih naasnya lagi persoalan datang dari organisasi lain. Hidup di dunia organisasi ini memang sama keparatnya susahnya minta ampun. Intinya, bagi mereka yang bisa bertahan di organisasi ini, berarti ia bisa menang melawan pikirannya sendiri.

Tepatnya tahun 2013, saya pertama kali masuk Sukma, tahun dimana saya masih belia dalam dunia perkampusan. Sukma bukanlah apa-apa bagi saya waktu itu. Tapi setelah bergelut didalamnya, Sukma bukan hanya sebatas organisasi biasa, ia hadir sebagai rumah yang bisa mengakrabkan saya dengan yang lain, Sukma juga hadir sebagai jalan hidup saya yang panjang selama kuliah.

Perjalanan di tahun 2013 saya menjadi pimpinan redaksi, jabatan yang salah total. Karena di tahun itu, saya baru mengenal dunia Sukma. Ya meski pun sewaktu masih mondok saya pernah merasakan dunia jurnalistik. Tepat setahun kemudian, saya diberi amanah untuk menjadi pimpinan umum Sukma, amanah yang lagi-lagi menurut saya salah kaprah. Dengan latar belakang yang minim soal kepemimpinan, harusnya saya masih dan hanya bisa duduk diposisi pimpinan redaksi. Tapi jabatan itu bergeser ke yang lebih berat. Jika tugas pimpinan redaksi adalah urusan tulis menulis terbitan Sukma, maka pimpinan umum adalah merangkul semua komponen di Sukma. Pekerjaan yang maha berat.

Susah sedih menjadi pimpinan umum Sukma dalam setahun, diiringi sifat saya yang pemarah, anggota tidak aktif saya marah, tulisan-tulisan tidak terbit saya marah, banyak yang bolos ketika rapat saya marah, bulletin tidak terbit saya marah dan kemarahan-kemarahan saya yang tak terhingga lainnya. Hanya saja, mereka bahkan tidak kapok dengan sifat saya itu. Tahun berikutnya saya diangkat lagi menjadi pimpinan umum Sukma. Jabatan yang membosankan. Persoalan yang itu-itu terus tanpa kejelasan berakhirnya kapan.

Setelah genap dua tahun menjadi pimpinan umum Sukma, akhirnya saya benar-benar bebas, sesuai dengan apa yang saya harapkan. Pikir saya waktu itu, bebas dari segala persoalan Sukma adalah kenyamanan dan keberlangsungan hidup yang tentram, kuliah tidak akan diganggu lagi dengan aktifitas organisasi yang jadwalnya padat ini, serjana akan lebih mudah datang karena saya bisa fokus nulis skripsi. Tapi ternyata pikiran-pikiran itu luput total. Keraguan akan membunuhk u.

Di organisasi ini saya belajar berbagai macam hal, mulai menyunting naskah, berlaku adil sesama Sukma, menjadi penengah, mencari solusi bersama, menggarap majalah, menambal keuangan yang bolong dengan proposal, konsistensi tulisan dan setumpuk kejadian-kejadian yang mengesankan dalam hidup saya.

Memang, bukan takaran waktu saya masih aktif di Sukma bahwa organisasi ini benar-benar dipuncak kejayaan. Saya masa bodo dengan pengakuan seperti itu. Waktu itu kami hanya menjalani tugas dan membuat semuanya menjadi terukur, terstruktur dan menjalankan fungsi Sukma sebagai pers mahasiswa. Saya jadi ingat ketika Sukma pertamakali merubah diri yang asalnya punya media Tabloid, harus berubah jadi majalah. Tanpa ‘guru majalah’ semua kompak membikin media yang menurut kami majalah. Alhamdulillah, keinginan itu terwujud. Sukma edisi majalah terbit pertamakalinya. Kami pun bersemangat untuk selalu memberikan yang terbaik agar kelak majalah ini semakin menyerupai majalah yang sebanarnya.

Setelah membuat majalah yang terbit 1 kali dalam setahun, rupanya kami semakin gilisah karena kami tidak punya media dwi mingguan. Lalu kami diskusikan dan menemukan jalan tengah, bahwa kami akan membuat bulletin yang tidak hanya terbit dua minggu sekali, tapi seminggu sekali. Akhirnya terbitlah pertama kali bulletin itu dengan nama “Buletin Berantas”.

Selain dua media ini, tentu saja kami menyadari, bahwa keilmuan berbicara juga harus dikembangkan. Maka kami pun melaksanakan rapat, dan tercetuslah hasil bahwa setiap senin sore kita diskusi dengan nama “Rapat Redaksi”. Bahkan bukan hanya rapat redaksi, kami juga hampir tiap malam diskusi dimana saja dan kapan saja. Diskusi menjadi budaya baru dari Sukma, diskusi menjadi candu kala itu, hingga suatu waktu saya dengan teman tertidur diamperan masjid Sabilal karena kelamaan diskusi.

Semua yang saya ceritakan diatas itu dulu, sangat dulu sekali. Dan lagi-lagi saya ingatkan, cerita diatas bukanlah takaran bisa dibilang Sukma waktu itu ada di puncuknya. Toh dalam hati, kami masih mau kepuncak berikutnya yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi.

Seberapapun kami bermimpi soal puncak tinggi, lambat laun puncak itu semakin samar akibat terlalu banyak asap tebal. Budaya diskusi bertambah buram karena banyak yang sibuk, Buletin Berantas kebobolan beberapa kali, produksi tulisan kian menipis dan nyaris musnah, majalah mampet dengan ragam alasan, dan tanda-tanda kehidupan Sukma yang baru sudah di tabuh.

Ditengah hiruk pikuk format Sukma yang baru, masyarakat didalamnya dibangun dengan cinta kasih, anggota anti terhadap tekanan, hidup nyaman di Sukma, diskusi adalah hal bodoh dan buang-buang waktu, menulis adalah perbuatan sampah yang musti ditinggalkan secara berjamaah. Hingga sekarang, sulit rasanya menemuka nama Sukma di beberapa media, kecuali Yupies, ya hanya di Yupies Sukma mencari peruntungan dan kehidupan.


Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

Posting Komentar

0 Komentar