MAHFUDISME - Jika bicara LPM Sukma, saya ingat ketika
dulu, waktu dimana saya mulai belajar berkumpul, diskusi, masak bareng, dan
kegiatan-kegiatan yang waktu itu sangat melelahkan. Setumpuk persoalan silih
berganti datang. Kadang sesama anggota menaruh jengkel, sesama pengurus
organisasi menyimpan dendam, dan lebih naasnya lagi persoalan datang dari
organisasi lain. Hidup di dunia organisasi ini memang sama keparatnya susahnya
minta ampun. Intinya, bagi mereka yang bisa bertahan di organisasi ini, berarti
ia bisa menang melawan pikirannya sendiri.
Tepatnya tahun 2013, saya pertama kali
masuk Sukma, tahun dimana saya masih belia dalam dunia perkampusan. Sukma
bukanlah apa-apa bagi saya waktu itu. Tapi setelah bergelut didalamnya, Sukma
bukan hanya sebatas organisasi biasa, ia hadir sebagai rumah yang bisa
mengakrabkan saya dengan yang lain, Sukma juga hadir sebagai jalan hidup saya
yang panjang selama kuliah.
Perjalanan di tahun 2013 saya menjadi
pimpinan redaksi, jabatan yang salah total. Karena di tahun itu, saya baru
mengenal dunia Sukma. Ya meski pun sewaktu masih mondok saya pernah merasakan
dunia jurnalistik. Tepat setahun kemudian, saya diberi amanah untuk menjadi
pimpinan umum Sukma, amanah yang lagi-lagi menurut saya salah kaprah. Dengan
latar belakang yang minim soal kepemimpinan, harusnya saya masih dan hanya bisa
duduk diposisi pimpinan redaksi. Tapi jabatan itu bergeser ke yang lebih berat.
Jika tugas pimpinan redaksi adalah urusan tulis menulis terbitan Sukma, maka
pimpinan umum adalah merangkul semua komponen di Sukma. Pekerjaan yang maha
berat.
Susah sedih menjadi pimpinan umum Sukma
dalam setahun, diiringi sifat saya yang pemarah, anggota tidak aktif saya
marah, tulisan-tulisan tidak terbit saya marah, banyak yang bolos ketika rapat
saya marah, bulletin tidak terbit saya marah dan kemarahan-kemarahan saya yang
tak terhingga lainnya. Hanya saja, mereka bahkan tidak kapok dengan sifat saya
itu. Tahun berikutnya saya diangkat lagi menjadi pimpinan umum Sukma. Jabatan
yang membosankan. Persoalan yang itu-itu terus tanpa kejelasan berakhirnya
kapan.
Setelah genap dua tahun menjadi pimpinan
umum Sukma, akhirnya saya benar-benar bebas, sesuai dengan apa yang saya
harapkan. Pikir saya waktu itu, bebas dari segala persoalan Sukma adalah
kenyamanan dan keberlangsungan hidup yang tentram, kuliah tidak akan diganggu
lagi dengan aktifitas organisasi yang jadwalnya padat ini, serjana akan lebih
mudah datang karena saya bisa fokus nulis skripsi. Tapi ternyata
pikiran-pikiran itu luput total. Keraguan akan membunuhk u.
Di organisasi ini saya belajar berbagai
macam hal, mulai menyunting naskah, berlaku adil sesama Sukma, menjadi
penengah, mencari solusi bersama, menggarap majalah, menambal keuangan yang
bolong dengan proposal, konsistensi tulisan dan setumpuk kejadian-kejadian yang
mengesankan dalam hidup saya.
Memang, bukan takaran waktu saya masih
aktif di Sukma bahwa organisasi ini benar-benar dipuncak kejayaan. Saya masa
bodo dengan pengakuan seperti itu. Waktu itu kami hanya menjalani tugas dan
membuat semuanya menjadi terukur, terstruktur dan menjalankan fungsi Sukma
sebagai pers mahasiswa. Saya jadi ingat ketika Sukma pertamakali merubah diri
yang asalnya punya media Tabloid, harus berubah jadi majalah. Tanpa ‘guru
majalah’ semua kompak membikin media yang menurut kami majalah. Alhamdulillah,
keinginan itu terwujud. Sukma edisi majalah terbit pertamakalinya. Kami pun
bersemangat untuk selalu memberikan yang terbaik agar kelak majalah ini semakin
menyerupai majalah yang sebanarnya.
Setelah membuat majalah yang terbit 1 kali
dalam setahun, rupanya kami semakin gilisah karena kami tidak punya media dwi
mingguan. Lalu kami diskusikan dan menemukan jalan tengah, bahwa kami akan
membuat bulletin yang tidak hanya terbit dua minggu sekali, tapi seminggu
sekali. Akhirnya terbitlah pertama kali bulletin itu dengan nama “Buletin
Berantas”.
Selain dua media ini, tentu saja kami
menyadari, bahwa keilmuan berbicara juga harus dikembangkan. Maka kami pun
melaksanakan rapat, dan tercetuslah hasil bahwa setiap senin sore kita diskusi
dengan nama “Rapat Redaksi”. Bahkan bukan hanya rapat redaksi, kami juga hampir
tiap malam diskusi dimana saja dan kapan saja. Diskusi menjadi budaya baru dari
Sukma, diskusi menjadi candu kala itu, hingga suatu waktu saya dengan teman
tertidur diamperan masjid Sabilal karena kelamaan diskusi.
Semua yang saya ceritakan diatas itu dulu,
sangat dulu sekali. Dan lagi-lagi saya ingatkan, cerita diatas bukanlah takaran
bisa dibilang Sukma waktu itu ada di puncuknya. Toh dalam hati, kami masih mau kepuncak berikutnya yang lebih
tinggi lagi, lagi, dan lagi.
Seberapapun kami bermimpi soal puncak
tinggi, lambat laun puncak itu semakin samar akibat terlalu banyak asap tebal.
Budaya diskusi bertambah buram karena banyak yang sibuk, Buletin Berantas
kebobolan beberapa kali, produksi tulisan kian menipis dan nyaris musnah,
majalah mampet dengan ragam alasan, dan tanda-tanda kehidupan Sukma yang baru
sudah di tabuh.
Ditengah hiruk pikuk format Sukma yang
baru, masyarakat didalamnya dibangun dengan cinta kasih, anggota anti terhadap
tekanan, hidup nyaman di Sukma, diskusi adalah hal bodoh dan buang-buang waktu,
menulis adalah perbuatan sampah yang musti ditinggalkan secara berjamaah.
Hingga sekarang, sulit rasanya menemuka nama Sukma di beberapa media, kecuali
Yupies, ya hanya di Yupies Sukma mencari peruntungan dan kehidupan.
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar