JADI ANAK KULI(AHAN), BENARKAH SAYA GAGAL JADI KAUM INTELEKTUAL?



MAHFUDISME “Katanya kuliah, kok jadi kuli bangunan?” kata saudara, tetangga dan segenap masyarakat di sekeliling saya saat ini. Perbincangan mereka yang kian gencar itu sedikit risik juga di dengar. Apa iya orang yang kuliah tidak boleh kerja dibangunan? Bagaimana pendapat para civitas akademi yang mulia atas tindakan saya ini, apakah mencederai, atau malu-maluin kampus yang islami itu? Sehingga saya harus membuang kata “mahasiswa”? Atau nasib ini akibat dari lambat lulus?

Bukan maksud menjual nasib yang tak seberuntung antum yang lagi baca tulisan ini,  dengan menceritakan pekerjaan kepada antum yang sedang berpikir apa untungnya mengetahui tentang kehidupan saya. Sekedar info kalau saya bukan anak pengusaha, apalagi pegawai negeri. Saya hanya seorang anak petani yang suka berusaha. Nabi pernah bersabda bahwa beliau menyukai orang berusaha dengan tangannya.

Terlalu lamanya saya berstatus mahasiswa supaya tak dianggap pengangguran. Ada alasan untuk berdalih ketika ditanya pekerjaan. Kerja serabutan memperkaya pengalaman hidup yang kurang beruntung ini. Mulai lulus Sekolah Dasar sudah ikut menual (memutik batu untuk di jual berkarung) di tambang batu bara, berpanas sampai mata membara, di jaman kuliah ini nasib saya kurang lebih agak sama yaitu pengangguran yang terus menganggurkan skripsi dalam imajinasi.

Asumsi orang ketika bertemu hampir selalu fokus pada satu titik, fokus satu tujuan bahwa saya adalah pekerja bangunan. kini anggapan itu benar adanya betapa doa mereka terkabul. Segala kemungkinan sudah terbaca secara mencemaskan. Kuli bangunan adalah semacam lambang kejahatan sosial yang kini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Barangkali benar, saya harusnya tak mengenyam dunia kampus, tapi langsung kawin dan bikin anak banyak-banyak lalu kerja serabutan, termasuk kuli bangunan.

Antum bisa saja memiliki penafsiran lain dari nasib saya yang kian beranting dan berakar ini. Menjalani hidup kerja serabutan memiliki kesan tersendiri sesuai pekerjaan yang mendesak. Tapi pekerjaan yang paling menjengkelkan adalah sebagai kuli bangunan. Kuli bangunan selalu membangun rumah orang, kemudian melihat pemiliknya bahagia dengan bangunan baru, lalu saya kapan membangun mahligai rumah tangga? Romantis-romantisan dengan istri didalamnya? Apa antum mau jadi istri saya (khusus perempuan)?

Jadi kuli bangunan merupakan pelarian yang terpaksa saya jalani dari sekian pekerjaan yang mendesak. Sederet pekerjaan yang pernah dijalani semasa kuliah semua menyakitkan, terlalu sakit oleh omongan antum yang terlahir sebagai sang komentar abadi. Mahasiswa kok jualan pentol, kok jadi kuli bangunan, kok jadi penulis di mahfudisme, kok jadi bego, mahasiswa kok nyampah dan lain-lain.

Saya menulis ini merupakan bagian dari penyesalan jadi mahasiswa semester lusinan, bahwa betapa menyakitkannya status mahasiswa apalagi menyandang alumni sebagai sarjana jika tidak memiliki pekerjaan yang lebih baik dari mereka yang sama sekali tak sekolah. Seperti orang yang kuliah hanya pantas di kantor, yang beraroma kantor dan kantoran. Ujung-ujungnya jadi kotoran masyarakat. Ckckck..

Sebagai Mahasiswa yang telah dihafal oleh segenap karyawan kantor fakultas, mungkin juga kantor rektorat, saya memiliki alergi dengan perkantoran yang kadang ber-AC, sebab kantor yang ber-AC itu dirancang untuk mendinginkan suasana, segala suasana yang mungkin bermasalah dan panas. Desain kantor yang tertutup untuk menutupi “masalah” (bahasa paling halus dari kata kesalahan, kejahatan dan semacamnya adalah masalah), bagaimana mungkin saya bekerja di kantoran yang memiliki desain seperti itu. Apakah saya terperangkap oleh kata-kata Gregory G Young dalam bukunya Membaca Kepribadian seseorang? Bahwa ‘terlalu memahami sesuatu terkadang membunuhmu'. Yang pasti saya terus selalu menikmati setiap pekerjaan kasar ini yang sebenarnya tak ada pilihan lain.

Kisah hidup paripurna ini sudah cukup untuk berintropeksi diri. Dengan begitu semoga antum bertahmid untuk sekali saja bersama tulisan ini. Okelah, ini pengalaman kerja yang harus antum hindari supaya nasibmu lebih baik. Singkatnya, tak ada pendidikan yang menyalamatkan dan menjamin dunia kerjamu kelak. Pendidikan hanyalah menambah wawasan, sementara kerja tidaknya hanyalah faktor keberuntungan.

Berikut ini pekerjaan yang saya jalani sesuai dengan jenjang pendidikan.
  1. Masa SD, bersyukur dekat tambang.  Menambang batu bara dengan membuat goa ditebing gunung. (Jangan-jangan saudara dinasaurus)
  2. Masa MTs, cerita yang terus berulang, hingga jenjang MTs saya jalani selama 6 tahun.
  3. Masa MA tak ada kisah selain belajar menulis di Pondok Pesantren Annuqayah, dua kutub tulisan menjadi primadona di pondok ini. Serius pada tulisan Lora Musthofa karang jati, renyah pada tulisan lora M. Faizi Sabajarin (mungkin di situ letak perbedaan kutub tulisan saya dan Moh Mahfud sebagai alumni dan mungkin anda sedikit pusing mendengarnya)
  4. Masa kuliah. Petualangan yang sempurna: Jadi Paman pentol, jaga warnet Nabilla, jaga Mie Ayam, buruh pabrik pollywood, buruh bangunan.
  5. Masa sarjana, Wallahu A'lam

Penulis: Ali Senior, mahasiswa yang juga pekerja bangunan
Editor: MAHFUDISME

Posting Komentar

0 Komentar