MAHFUDISME - Tahun 2013, waktu awal saya kuliah,
Universitas Islam Negeri Antasari statusnya masih Institut Agama Islam Negeri
Antasari. Kampus yang masih banyak memelihara kolam-kolam, gedung sederhana,
apung tempat nongkrong, dan tentunya nama UIN Antasari yang letaknya serong di
Taman Hijau (Tajau) belum ada kala itu.
Kampus yang berdiri sejak tanggal 20
Novermber 1964 dengan rektor pertama K.H. Zafri Zamzam itu, waktu awal saya
masuk biasa-biasa saja, sistem perpeloncoan bagi mahasiswa baru, sistem yang
masih menggunakan SPP bukan UKT, dan disaat itu juga masih belum banyak yang
menggunakan cadar ala sekarang.
Belum lagi, waktu itu, ketika musim hujan
tiba, di depan gedung perkuliahan Fakultas Syariah dan Fakultas Dakwah (yang
sekarang disulap menjadi gedung raksasa) selalu mengalami banjir. Di Tarbiyah
dan di Ushuludin pun banjir. Namun, seiring dengan perkembangan pembangunan di
kampus ini, banjir berkurang. Rawa-rawa yang biasa menampung air dan ikan di
sumbat (misalnya di fakultas Ushuludin) dan ini memang manjur untuk mengurangi
banjir.
Selanjutnya, gedung-gedung di kampus ini
kian hari kian tumbuh subur, bangunan lama bukan hanya dibugarkan, tapi di
babat habis lalu di ganti dengan gedung baru yang lebih modern. Sayangnya,
waktu pergantian gedung baru ini, saya tak sempat duduk di bangku perkuliahan
lagi karena keburu selesai mata kuliah, saya hanya mencicipi gedung yang sering
banjir dan banyak sarang laba-labanya. Tapi saya bersyukur, setidaknya
adik-adik yang sekarang kuliah tempatnya nyaman tanpa banjir, proyektor nyala,
bangku baru, papan tulis baru, dan yang baru-baru lainnya.
Ditengah polesan gedung-gedung baru itu,
dulu waktu masih saya aktif di bangku kuliah sering mikir, kenapa tak ada pintu
gerbang baru untuk menunjukkan eksistensi kampus? Tapi dari pertanyaan-pertanyaan
itu justeru yang terjawab adalah kampus mendirikan nama “IAIN Antasari” di
Taman Hijau, lalu karena perubahan status, nama itu diganti “UIN Antasari” yang
sekarang masih kokoh berdiri menjadi background
mahasiswa yang hobi foto.
Jika ada mahasiswa baru dari kampung mau
cari kampus ini, banyak dari mereka yang malah nyasar entah kemana, dan itu
saya sendiri yang merasakan dulu. Memang sih, pintu gerbang bukan patokan dalam
menunjukan eksistensi kampus. Hanya saja, jika dilihat, kampus UIN Antasari
punya letak yang strategis untuk mendirikan pintu gerbang dengan logo besar
ditengahnya, ini tentunya akan mempermudah masyarakat untuk sekali lirik
langsung tahu “Oooh… Ini ya UIN Antasari” kira-kira begitu.
Banyak yang bakalan nanya begini “Buat apa
pintu gerbang, toh nyatanya banyak pembangunan yang harus di priotitaskan
ketimbang bikin pintu gerbang”. Iya sih, memang jika dilihat secara sepintas “tak
ada gunanya”. Terlebih lagi, membangun pintu gerbang itu memerlukan dana besar.
Ambil contoh misalnya pintu gerbang milik Unlam yang konon katanya menghabiskan
uang yang lumayan besar. Berkat Ikatan Keluarga Alumni Unlam, gerbang ini
akhirnya berdiri tahun 2015 silam, tepat di hari Kebangkitan Nasional.
Jika berkaca pada Unlam, bukan suatu hal
yang mustahil UIN Antasari punya pintu gerbang. Masalah dana akan bisa diatasi
dengan cara patungan, mulai dari dosen, karyawan, mahasiswa dan lebih-lebih alumni
yang sudah banyak sukses di semua sektor. Saya hanya bisa membayangkan,
misalnya untuk mahasiswa patungan semampunya, dan jelas ini bukan pungli,
berapa banyak uang akan terkumpul? Tentu saja lumayan banyak, apalagi ditambah
patungan dari karyawan, patungan dari dosen, dan patungan dari alumninya.
Akan tetapi pada persoalan berikutnya,
kesadaran untuk secara bersama-sama dalam mendirikan pintu gerbang, kita sulit
bersatu, akibatnya seakan biaya membuat pintu gerbang di bebankan kepada
kampus. Kalau sudah begini ya mustahil UIN Antasari punya gerbang. Budaya
gotong-royong yang selalu digembar gemborkan seperti isapan jempol belaka.
Padahal, jika semuanya menyatu, mulai dari
mahasiswa, karyawan kampus, dosen, alumni dan seluruh komponen yang ada dalam
kampus, beban biaya anggaran bikin pintu gerbang menjadi lebih gampang, mudah,
dan cepat didirikan. Pasti ada yang komentar “Sulit menggerakkan itu semua”,
tapi jika dipikir bukannya setiap kelompok-kelompok yang saya sebutkan diatas
punya koordinator? Misalnya mahasiswa punya DEMA, alumni punya koordinator
dan lain-lain.
Tapi sekali lagi, jangan-jangan kita
puluhan tahun tidak punya gerbang gara-gara kesadaran kita sulit bersatu,
kepala kita individualis, dan lupa pada almamater sendiri. “Saya tidak lupa,
kan saya masih belum lulus”.
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar