MAHFUDISME - Setelah kemarin saya baca Jejakrekam soal pemilihan Duta Wisata Banjarmasin yang
menghabiskan dana sampai 550 juta, dalam kepala saya kayak ada yang ngomong
sendirian panjang lebar, entah itu ngomel atau apa, yang jelas dia ngerunyam
seenaknya ngomongin soal Duta Wisata Banjarmasin. Dalam kepala ia menggerutu begini,
“Bos, tugas Duta Wisata ini apa sih
fungsinya? Oke saya tahu tugasnya promosikan wisata Banjarmasin. Tapi mbokya gitu-gitu aja tuh wisata
Banjarmasin. Yang saya tahu, dan mungkin Bos juga tahu, yang paling nampak
kinerja Duta Wisata atau Duta-duta lainnya, palingan nyambut tamu kehormatan.
Saya sendiri sudah cek, Bos. Pakai google nyari info Duta Wisata Banjarmasin,
hasilnya ya itu-itu saja. Di era digital begini, kan Bos tahu sendiri, apa-apa
harus di digitalkan. Ya maksud saya masak iya Duta Wisata Banjarmasin gak punya
website? Atau apa-apa masih numpang Dinas Pariwisata Banjarmasin termasuk
website? Lah, kalau begitu kan
namanya gak mandiri, masak promo gratis di Instagram doang. Apa iya ya Bos,
harga website 150rb Duta-duta ini gak bisa patungan buat beli Domain? Tunggu
dulu, Bos paham gak sih omongan saya
dari tadi” katanya ngerunyam nyerocos mirip bebek lagi makan.
Dari sesuatu yang ngomel-ngomel itu,
akhirnya saya sendiri turun tangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mahkluk
dalam kepala tersebut. Langkah pertama, saya cari tahu gunanya Duta Wisata itu
apa. Lalu saya menemukan tulisan milik Andin Destin yang tahun terbitnya sudah cukup lama, 2014. Kenapa
saya memilih mengutip tulisan ini? Karena tulisan ini kayaknya masih relevan.
Dalam tulisan Andin, setidaknya menyebutkan 4 hal tugas seorang Duta Wisata.
Pertama, menjadi pelopor dalam masyarakat akan pentingnya wisata. Kedua,
menjadi salah satu faktor dalam kemajuan dunia pariwisata. Ketiga, menjadi
media promosi pariwisata. Dan terakhir, menjadi sarana dan prasarana masyarakat
untuk mengenal segala hal dalam pariwisata.
Dari definisi diatas kita akan menemukan
banyak kejanggalan. Misalnya maksud dari “pelopor pentingnya wisata bagi
masyarakat”. Sampai sejauh mana Duta-duta ini jadi pelopor? Atau memang sayanya yang tidak tahu kinerja kepeloporan mereka? Atau bahkan masyarakat juga
tidak tahu? Tapi yang jelas, hanya mereka sendiri dan Tuhan lah yang tahu.
Terus pada definisi “salah satu faktor
dalam kemajuan wisata” okelah ini bisa diterima, hanya saja dengan garis bawah,
kemajuan wisata seperti apa? Apakah soal pengunjung, atau bertambahnya
destinasi wisata baru karena hasil dari ide-ide Duta-duta ini?
Lalu, yang tak kalah absurdnya adalah
bagian definisi “sebagai media promosi wisata”, kata “media” disini masih
mengandung makna luas. Media bisa semacam sosialisasi, media juga bisa semacam
event-event dan atau yang lainnya. Akan tetapi, di era yang dalam WC saja
nonton YouTube, masak iya website mereka gak punya? Apa website bukan bagian
dari media? Atau mereka punya website tapi diberi nama lain. Nah ini bisa jadi.
(Saya husnudzan saja bahwa situs banjarmasinturism.com adalah miliki Duta Pariwisata sebagai media promosi wisata, meski saya tahu ini
situs resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin)
Lalu yang terakhir inilah yang paling saya
setuju, bahwa tugas dan fungsi seorang yang menyandang Duta Wisata adalah
sebagai sarana dan prasana masyarakat. Dengan definisi begini, ya sudah saatnya
orang-orang yang ragu seperti saya soal kinerja Duta Wisata lambat laun harus
dihilangkan dengan catatan, Duta Wisata harus terasa ditengah-tengah
masyarakat.
Duta Wisata tidak lagi hanya hadir sebagai
penyambut tamu kehormatan, tapi menyambut hati rakyat agar senang berwisata (manakala ada duit berlebihan). Di sisi lain, Duta Wisata juga harus berperan
aktif, misalnya menyelamatkan Pasar Terapung Kuin yang semakin hari semakin
sunyi. Sebagai orang “terdekat pemerintah” mungkin akan lebih didengar
ketimbang tulisan ini. Duta Wisata juga harus hilangkan stigma “kemewahan
berwisata”. Artinya begini, Duta Wisata bukan hanya hadir acara-cara yang
formal seperti di hotel, makan direstoran dengan promo makanan khas atau yang
lainnya. Duta Wisata harus turun tangan langsung, misalnya ngopi-ngopi di Pasar
Lama atau apalah. Yang penting masyarakat merasakan bahwa Duta Wisata memiliki
peran penting dalam pertumbuhan kepariwisataan.
Pemerintah Provinsi Kalsel sebenarnya juga
sudah mendorong soal pariwisata ini, melalui
Perda Nomor 8 Tahun 2010 (PDF),
sudah sangat jelas bahwa target dan tujuan wisata kedepan diharapkan dapat
berkembang segnifikan dengan di dorong melalui Perda ini. Saya juga punya
saran, dengan menghabiskan duit 550 juta untuk pemilihan Duta Wisata, tolonglah
aura-aura kinerjanya sampai ke masyarakat, pengeluaran dana sebesar itu harusnya juga menghasilkan uang yang lebih besar dari pada 550 juta. Jadi kan biar sama-sama enak, bahwa
menjadi Duta Wisata adalah tugas mulia dan orang yang menjadi Duta Wisata
benar-benar orang palihan dari yang terbaik. Bukan cuma menyandang status Duta
Wisata semata.
“Bos, kok
lu lebih nyerocos dari pada saya sih. Saya punya pertanyaan lagi nih Bos
soal wisata” katanya. “Sudah, kamu ini bore, kalau kamu dapat intisari dari
tulisan ini, pertanyaanmu itu sudah kamu jawab sendiri” bentak saya. “Tapi Bos,
Bos gak mau jadi Duta Ngomel? Kan sekarang emang apa-apa harus ada Dutanya?”
Saya diamkan saja isi kepala tu.
Penulis: Moh Mahfud
Editor: MAHFUDISME

0 Komentar