MAHFUDISME - Setelah sekian lama saya amati, perempuan-perempuan di kampus
rupanya banyak yang memilih jalan hijrah. Jalanannya pun beragam, mulai dari
yang awalnya berpakaian ketat menjadi lebih feminim, juga ada yang hanya karena
cintanya selalu tak bertahan lama dan memilih hijrah dengan cara berpakaian
tertutup rapat. Bahkan rapat sekali dan hampir orang-orang tak bisa
mengenalinya lagi.
Tentu dengan niat yang baik dan bagus hal ini perlu diapresiasi,
mengingat, sekarang kaum lelaki (tidak termasuk saya) banyak yang
gampang-gampang saja gonta-ganti pasangan yang mengakibatkan perempuan
kehilangan cinta pertamanya. Nasib!
Melihat kondisi yang demikian, saya sebagai orang yang menjunjung
tinggi hak-hak perempuan dan sebagai pembela kaum-kaum air mata, hati saya
tergerak melakukan apa saja asal jangan urusan duit. Termasuk ini, menulis.
Haha..
Dalam beberapa hari yang lalu saya melakukan perjalanan, tepatnya
malam tahun baru, di Desa Batu Tanam Binuang. Tentu saya tak lagi melakukan
safari dakwah, saya hanya liburan, mencari durian dan bertapa diatas gunung
saat detik-detik pergantian tahun.
Dalam perjalanan pulang, saya merenung dan hati bertanya-tanya
pada udara yang masih gerimis "Kenapa hanya perempuan yang selalu dekat
dengan kata hijrah?" Tapi udara tak menjawab apa-apa. "Apakah lelaki
tak boleh hijrah?" Udara masih diam saja tak mau menjawab. "Fud turun
nukar bensin" Kata Bang Abu mengejutkanku, saya pun turun dari motor, tapi
tetep saja udara tak menjawab apa-apa.
Pada pertanyaan-pertanyaan yang tanpa jawaban inilah akhirnya saya
menemukan kasus-kasus konyol dilapangan yang terjadi ketika mereka memilih
jalan hijrah. Siapkan mata dan telingan antum, jangan lupa sedia kopi
Anti Bicara Lawan Jenis
Saat kita duduk di bangku SD/MI kita sudah diajarkan tentang
bersosial, yang tak kalah menjadi ukuran sosial bagi kita adalah ketika kita
hidup di perkampungan, dan disanalah kita diajarkan bersosial yang sangat
tinggi. Herannya saya, kenapa ketika dedek-dedek memilih jalan hijrah ada yang
anti ngomong sama lawan jenis? "Suara perempuan termasuk aurat bang"
begitulah jawabnya, saya hanya diam saja.
Tapi namanya juga orang usil, tetep saja jawaban itu tak membuat
saya puas. Saya pun bolik-balik WC, soalnya biasanya banyak jawaban-jawaban
brilian datang ketika merenung di atas kloset.
Yang saya dapat dalam WC begini. Apakah sebegitu menggodanya suara
perempuan membuat seorang Muhammad Rahim Arza meneteskan air beliurnya? Apakah
tidak patah semangat ketika Muhammad Fahrizal nanya soal skripsi tapi di diamkan
begitu saja? Dan apakah tidak putus asanya ketika Muhammad Iqbal Al-Binjui
nanya 'Kamu KKN di desa mana?' Terus si perempuan hanya diam seribu bahasa?
Wah, saya pikir ini bahaya.
Saya membayangkan dedek-dedek yang hijrah model macam ini baiknya
masuk SMA lagi dan baca tuh mata pelajaran sosiologi sampai
khatam bolik-balik sambil puasa, sampai sembab penglihatannya. Insyaallah kita
dapat hidayah dari leluhur kita.
Bukankah budaya kampung kita tak mengajarkan hal itu? Artinya
bukan malah hal bagus ketika dedek-dedek ini pulang malah jadi bahan gunjingan
semua tetangga gara-gara di panggil sepupu yang beda jenis malah bilang
"saya diam karena suara saya aurat!" Coba antum bayangkan bila hidup
di kampung seperti itu, emak-emak pasti dengan senang hati ngomongin itu orang.
Haha...
Merubah Tampilan Demi Hijrah
Soal tampilan perempuan, saya jadi ingat diskusi kecil dengan
Yuyun (nama sedikit samar) tadi malem. Menurutnya penampilan seorang wanita
bukan lantas agar menarik mata lelaki, tapi, menurutnya, perempuan suka
berpenampilan karena dengan penampilan perempuan bisa percaya diri.
Tapi beda lagi dalam pandangan saya, perempuan dengan pakaian yang
ketat, make up tebal, gincu wardah, membuat lelaki bakalan jatuh dalam
pelukannya, jika lelaki melihat hal demikian justru kita sebagai kaum-kaum
lelaki serasa melihat perempuan yang kurang vitamin, perempuan yang terlalu
sedikit mengkonsumsi kangkung, perempuan yang membosankan. Ini pikiran awal
saya, antum jangan marah dulu.
Saya balas juga begini ke Yuyun "Lelaki suka pada perempuan
yang punya akhlak, dia tahu bertutur yang baik, ngobrol yang baik, bisa ngaji,
dan tentu menjaga pandangannya Akkaayy".
Tapi bagaimana dengan perempuan yang memilih jalan hijrah dengan
mengubah tampilannya? Nah ini masalah lagi dalam pikiran saya. Memang
bagus sih perempuan menutup aurat ketimbang ngakunya dari
kampus yang kental dengan agama , malamnya malah nongkrong dalam club hotel.
Haha..
Tapi bagaimana pun tindakan kita, selalu ada dua kemungkinan,
positif dan negatif. Nah negatif dari model macam hijrah ini adalah saya temui
di kampung halaman saat pulang bulan Oktober lalu. Perempuan ini pernah ngaji
ke bapak. Rumahnya lumayan jauh. Dia mondok. Waktu mondok sih tampilannya
seperti perempuan pada umumnya. Nah selesai mondok dia kawin
dan barulah si suami menyuruhnya memakai cadar. Subhanaallah!
Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan, malah jadi omongan orang
sekampungan. Saya sebagai mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab (ini jurusanku
masa bodo kalian mau bilang fakultas ushuludin) tentu penasaran. Saya nanya
ke Emak kenapa orang-orang ngomongin dia "Hijrah
katanya". Sebagai kampung yang memegang ajaran-ajaran NU, kami biasanya
selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya asal tidak bertentangan dengan
Agama NU kami. Haha..
"Apa sampeyan bakalan nanggung dosanya ketika sampeyan
sedekah baju lengan pendek pada perempuan?" Emak menirukan
omongan dia. Usut-punya usut ternyata si suami punya aliran, saya lupa nama
alirannya apa, tapi yang jelas bukan NU.
Hijrah Kurang Ilmu
Apa pun minumannya tetap harus punya ilmu, mengatasi masalah tanpa
masalah juga perlu ilmu, pokoknya apa saja butuh ilmu. Titik!
Tapi saya lihat dedek-dedek yang hijrah model ketiga ini adalah
mereka yang tak pernah merasakan kejamnya kehidupan pondok. Jika dedek ini
mondok tentu mereka tak perlu hijrah. Sebab di pondok kita sudah hijrah. Di
pondok kita diajarkan menjaga pandangan, membaca Al-Quran, menyapa tetangga,
cuci baju, masak bersama dll.
Maka, saya tak pernah menemukan sampai sekarang yang melaksanakan
hijrah adalah orang pondok. Sebab dipondok segala ilmu, mulai dari ilmu
pengetahuan hingga kitab gundul diajari. Maka ketimbang hijrah model mahasiswa
ini dan saya ngomeng-ngomeng gak jelas ke akhwat, saran saya cuma satu, kalian
berhenti total kuliah dan mondoklah. Terserah dimana, tapi kalau bisa di
daerahku, soalnya disana selain NU adalah kafir. Hahaha...
Penulis : Moh Mahfud
Editor : MAHFUDISME

0 Komentar